Opini

Perang Amerika vs Iran dari Perspektif Ekonomi

×

Perang Amerika vs Iran dari Perspektif Ekonomi

Sebarkan artikel ini
Awaluddin SE.

OPINI (SULTRAAKTUAL.ID) – Perang hampir selalu identik dengan kehancuran, korban jiwa, gangguan perdagangan, dan ketidakpastian ekonomi. Karena itu, membicarakan keuntungan ekonomi dari sebuah perang mungkin terdengar paradoks, bahkan tidak pantas. Namun, jika dilihat semata-mata dari perspektif ekonomi, setiap gejolak geopolitik juga menciptakan perubahan pada arus perdagangan, harga komoditas, investasi, industri, hingga kebijakan ekonomi negara-negara yang terlibat maupun yang berada di luar medan konflik.

Konflik Amerika Serikat dan Iran, misalnya, tidak hanya memengaruhi kedua negara. Posisi Iran yang strategis di kawasan Timur Tengah, terutama terkait jalur perdagangan dan energi, membuat setiap eskalasi berpotensi mengubah peta ekonomi global.

Di tengah berbagai dampak negatif tersebut, muncul pula sejumlah peluang ekonomi bagi negara dan sektor tertentu—termasuk negara yang tidak terlibat langsung dalam konflik
Setelah perang Amerika Serikat melawan Iran berlangsung selama sekitar enam bulan, muncul pertanyaan ekonomi yang menarik: Jika perang telah menghabiskan puluhan miliar dolar, siapa yang diuntungkan secara ekonomi? Dan berapa besar keuntungan yang akhirnya dinikmati oleh perusahaan-perusahaan Penyedia logistik perang?
Pertanyaan ini bukan sekadar spekulasi. Pada 15 September 2026, Congressional Budget Office (CBO) memperkirakan operasi tempur Amerika terhadap Iran telah menghabiskan sekitar US$38 miliar hingga 1 Agustus 2026. Jika tingkat operasi berlanjut, biaya tersebut diperkirakan bertambah sekitar US$2–3 miliar setiap bulan. (Congressional Budget Office)

Angka US$38 miliar itu sendiri belum merupakan “keuntungan perusahaan”. Sebagian besar merupakan biaya pemerintah untuk operasi militer, penggantian persenjataan, penerbangan dan berbagai kebutuhan lainnya.Namun justru di situlah kita dapat mengikuti jejak uang perang. Dan bisa jadi, dari situ kita akan menduga alasan yang tersembunyi dibalik layar, mengapa perang ini tidak bisa diakhiri.

Salah satu penerima manfaat ekonomi yang paling mudah dilihat adalah industri pertahanan.
Perang menghabiskan rudal, bom, interceptor, amunisi dan berbagai perlengkapan militer dalam jumlah besar. Setelah persediaan berkurang, pemerintah harus membeli kembali dan mengisi persediaan tersebut.

Laporan Pentagon Inspector General yang diberitakan pada September menunjukkan bahwa militer Amerika telah menggunakan lebih dari US$22 miliar amunisi dalam operasi melawan Iran. (Business Insider)
Artinya, perang tidak berhenti menghasilkan pengeluaran ketika sebuah rudal ditembakkan.

Rudal yang sudah digunakan harus diproduksi kembali. Dan ketika pemerintah Amerika memesan kembali persenjataan tersebut, uang pemerintah berubah menjadi Pendapatan perusahaan pertahanan.

Salah satu contoh paling jelas adalah Lockheed Martin. Pada bulan Juli 2026, Lockheed menaikkan proyeksi penjualan dan laba 2026 ketika Pentagon mulai memperbesar upaya untuk mengisi kembali persediaan senjatanya. Pendapatan divisi Missile and Fire Control perusahaan tersebut meningkat sekitar 20%, sementara backlog-nya mencapai sekitar US$230,4 miliar. (Reuters)

Lebih menarik lagi, pada akhir bulan Juli 2026 Angkatan Darat AS memberikan Lockheed kontrak Patriot interceptor yang nilainya dapat mencapai US$58,6 miliar. (Reuters)
Perlu dicatat: US$58,6 miliar tersebut bukan berarti laba Lockheed dan bukan pula seluruhnya merupakan akibat perang Iran. Itu adalah nilai maksimum kontrak, sedangkan pendapatan dan laba perusahaan terealisasi bertahap sesuai produksi dan pelaksanaan kontrak.

Tetapi mekanismenya jelas: Perang menyebabkan persediaan senjata berkurang, karena itu maka pemerintah harus mengisi kembali persediaan, selanjutnya kontrak pembelian senjata meningkat, dan pada akhirnya membuat pendapatan kontraktor pertahanan melonjak tinggi.

Perusahaan lain yang menarik adalah RTX, induk Raytheon. Pada Juli, RTX menaikkan proyeksi penjualan tahun 2026 menjadi US$95–96 miliar, dari proyeksi sebelumnya US$92,5–93,5 miliar. Perusahaan juga menaikkan proyeksi laba per saham. Divisi Raytheon mengalami kenaikan penjualan sebesar 18%, sementara backlog RTX mencapai sekitar US$289 miliar. (Reuters)
Di sini kita menemukan satu hal penting: Perang tidak otomatis membuat seluruh pendapatan perusahaan pertahanan menjadi “laba perang”. RTX juga memperoleh uang dari bisnis penerbangan sipil, perawatan mesin pesawat dan berbagai kontrak internasional.

Karena itu, kalau kita ingin menghitung secara serius, yang harus dihitung bukan: “Berapa laba RTX?”, melainkan: Berapa bagian tambahan pendapatan dan laba RTX yang dapat dikaitkan dengan meningkatnya permintaan persenjataan akibat perang?
Kalau industri pertahanan adalah penerima manfaat langsung dari meningkatnya permintaan senjata, industri energi bekerja melalui mekanisme yang berbeda. Perang mengganggu pasokan minyak dan lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz. Akibatnya, harga minyak meningkat. Dan ketika harga minyak naik, perusahaan yang memproduksi minyak dapat memperoleh pendapatan lebih besar dari setiap barel yang mereka jual.

BACA JUGA :  Gaza dan Urgensi Tegaknya Perisai Umat Islam

Di sinilah ExxonMobil dan Chevron menjadi contoh menarik.Pada kuartal II 2026, ExxonMobil membukukan laba sekitar US$14,7 miliar, hampir dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun sebelumnya dan menjadi laba kuartalan tertinggi dalam empat tahun. Reuters mengaitkannya antara lain dengan kenaikan harga minyak dan margin penyulingan yang membaik selama konflik Iran. (Reuters)

Chevron bahkan membukukan laba sekitar US$12 miliar pada kuartal tersebut—yang disebut sebagai laba kuartalan tertinggi dalam enam tahun. Pendapatan upstream Chevron meningkat tajam, sementara bisnis penyulingannya juga menikmati margin yang tinggi. (Reuters)

Jika digabungkan, ExxonMobil dan Chevron menghasilkan sekitar US$27 miliar laba dalam satu kuartal.

Tetapi kita tetap harus hati-hati. Adalah tidak tepat untuk mengatakan US$27 miliar itu adalah keuntungan dari perang Iran. Karena kedua perusahaan memang memiliki bisnis global yang sangat besar.

Namun perang mempunyai pengaruh nyata terhadap kondisi yang menghasilkan laba tersebut. Harga Brent rata-rata pada kuartal II meningkat sekitar 23% dibanding kuartal sebelumnya, sementara gangguan pengiriman melalui Hormuz turut memperketat pasar energi. (Reuters)

Bahkan pada September, CEO Chevron memperingatkan bahwa cadangan penyangga minyak global yang sebelumnya digunakan untuk meredam kenaikan harga sudah semakin terkuras. Harga diesel Amerika kemudian mencapai sekitar US$6 per galon. (Reuters)

Di sinilah ketimpangan akibat perang mulai terlihat. Satu pihak memperoleh keuntungan dari harga energi yang lebih tinggi, sementara pihak lain harus membayar harga energi yang lebih mahal.

Misalnya pemerintah Amerika mengeluarkan US$38 miliar untuk perang. Uang tersebut pada akhirnya berasal dari anggaran negara dan pembiayaan pemerintah. Sebagian mengalir kepada perusahaan pertahanan. Perusahaan membayar pekerja, membeli bahan baku dari pemasok dan membagikan sebagian keuntungan kepada pemegang saham.

Pada saat yang sama, perang mengganggu pasokan energi. Harga minyak naik, harga bahan bakar naik, biaya transportasi naik, serta biaya produksi berbagai barang ikut naik.
Dengan demikian, masyarakat dapat terkena dampaknya melalui dua pintu sekaligus, pertama, melalui pajak dan beban fiskal pemerintah, dan kedua, melalui kenaikan harga energi dan barang.

Sebuah penelitian Brown University yang diberitakan The Wall Street Journal memperkirakan konsumen Amerika telah mengeluarkan sekitar US$107 miliar lebih banyak untuk bensin dan solar sejak konflik dimulai akibat lonjakan harga energi. (The Wall Street Journal)
Angka tersebut tentu berbeda konsep dengan US$38 miliar biaya militer.

US$38 miliar adalah biaya operasi militer yang dihitung CBO, sedangkan US$107 miliar adalah tambahan pengeluaran konsumen untuk bahan bakar menurut estimasi penelitian tersebut.
Namun keduanya menunjukkan sesuatu yang penting, Harga yang harus dibayar untuk sebuah perang jauh lebih besar daripada biaya yang tercatat dalam anggaran Pentagon.

Menariknya, tidak semua perusahaan Amerika memperoleh keuntungan dari perang. Perusahaan transportasi, misalnya, menghadapi biaya bahan bakar yang jauh lebih tinggi. Namun sebagian perusahaan juga dapat memperoleh tambahan pendapatan melalui fuel surcharge yang dibebankan kepada pelanggan.

Reuters melaporkan bahwa kenaikan biaya bahan bakar selama perang telah menghasilkan tambahan pendapatan surcharge bagi sejumlah perusahaan transportasi. Union Pacific, misalnya, memperoleh sekitar US$91,1 juta lebih banyak dari fuel surcharge dibanding biaya bahan bakar yang dibayarkannya pada kuartal II. (Reuters)

Ini menunjukkan bahwa hubungan antara perang dan keuntungan perusahaan ternyata tidak sederhana. Ada yang memperoleh keuntungan langsung, ada yang memperoleh keuntungan tidak langsung, ada yang hanya memperoleh tambahan pendapatan tetapi sekaligus mengalami kenaikan biaya, dan ada pula yang justru mengalami kerugian.

BACA JUGA :  Aktivitas Blasting PT Mineral Bumi Puluti Mengkhawatirkan : Tiang PLN Hancur, Masyarakat Desa Gelap Gulita

Inilah pertanyaan yang ternyata tidak bisa dijawab hanya dengan menjumlahkan laba Lockheed, RTX, ExxonMobil dan Chevron. Kalau kita menjumlahkan laba seluruh perusahaan tersebut, kita akan mendapatkan angka yang sangat besar. Tetapi angka itu menyesatkan, karena perusahaan-perusahaan tersebut memperoleh laba dari bisnis yang sudah berjalan sebelum perang.

Perhitungan yang lebih masuk akal adalah mencari keuntungan tambahan yang muncul karena perang.

Misalnya: Berapa tambahan penjualan Lockheed akibat kebutuhan mengganti rudal yang ditembakkan? Berapa tambahan laba RTX akibat meningkatnya permintaan sistem pertahanan? Berapa tambahan laba Exxon akibat kenaikan harga minyak? Berapa tambahan laba Chevron akibat kenaikan harga minyak dan margin penyulingan? Berapa keuntungan perusahaan logistik akibat fuel surcharge?
Jika seluruh angka tersebut berhasil dihitung, barulah kita bisa mendapatkan sesuatu yang jauh lebih menarik: Dan mungkin di situlah kita akan menemukan gambaran yang selama ini jarang terlihat. Perang Iran memperlihatkan sebuah mekanisme ekonomi yang sebenarnya sederhana.

Pemerintah mengeluarkan uang, kemudian perusahaan pertahanan menerima kontrak, selanjutnya perusahaan memproduksi senjata, lalu perang menghabiskan senjata, terakhir pemerintah membeli kembali.

Di sektor energi: perang mengganggu pasokan, mengakibatkan harga minyak naik, akibat lanjutannya perusahaan energi memperoleh margin lebih besar, dan ujung-ujungnya konsumen membayar lebih mahal.

Dengan demikian, perang bukan hanya persoalan militer. Ia juga merupakan pergerakan uang dalam skala yang sangat besar. Dan dari data yang tersedia sampai September 2026, sudah terlihat bahwa sebagian perusahaan Amerika memang mengalami peningkatan pendapatan, laba atau prospek bisnis yang berkaitan dengan meningkatnya permintaan pertahanan dan kenaikan harga energi.

Tetapi besarnya “keuntungan yang disebabkan oleh perang” belum dapat disamakan dengan laba total perusahaan dan membutuhkan perhitungan yang lebih rinci. (Reuters)

Lalu Bagaimana dengan Iran sendiri.
Perang dan terganggunya lalu lintas minyak melalui Selat Hormuz mendorong harga minyak dunia naik tajam. Kondisi ini memberikan keuntungan kepada negara-negara produsen minyak yang masih mampu menjual produksinya.
Iran termasuk salah satu negara yang sempat memperoleh manfaat tersebut. Kementerian Perminyakan Iran menyatakan bahwa selama periode perang Iran telah menjual minyak mentah senilai sekitar US$11,5 miliar.

Pemerintah Iran juga menyatakan bahwa kenaikan harga minyak memberikan tambahan nilai sekitar US$3 miliar pada semester pertama 2026. Angka tersebut merupakan klaim resmi pemerintah Iran, sehingga perlu dibaca sebagai data dari pihak Iran, bukan sebagai estimasi independen.
Pada tingkat perusahaan, keuntungannya lebih bersifat sektoral.

Perusahaan energi dan petrokimia merupakan kelompok yang secara teori paling berpotensi memperoleh manfaat dari kenaikan harga minyak dan produk energi. Ketika harga minyak naik, nilai produksi dan persediaan energi meningkat. Namun, manfaat tersebut sangat tergantung pada kemampuan perusahaan untuk tetap memproduksi, mengangkut dan menjual produknya di tengah sanksi dan gangguan perdagangan.

Perusahaan yang memasok kebutuhan pemerintah dan sektor pertahanan juga dapat mengalami peningkatan permintaan. Dalam kondisi perang, pemerintah harus meningkatkan pengeluaran untuk pertahanan, keamanan, transportasi, perawatan infrastruktur serta kebutuhan logistik. Karena itu, sebagian perusahaan yang memasok barang dan jasa kepada negara dapat memperoleh peningkatan aktivitas ekonomi.

Perusahaan perdagangan dan logistik domestik tertentu juga dapat memperoleh peluang dari perubahan jalur perdagangan. Ketika jalur laut mengalami gangguan, Iran meningkatkan penggunaan jalur darat, terutama melalui Turki. Financial Times melaporkan bahwa perdagangan bilateral Iran-Turki meningkat sekitar 19 persen pada semester pertama 2026, sementara lalu lintas truk di perbatasan Gürbulak-Bazargan meningkat tajam.

Pada akhirnya kita bisa melihat bahwa Perang yang telah menyebabkan penderitaan bagi begitu banyak umat manusia, ternyata memberikan keuntungan yang tidak sedikit bagi segelintir orang.