Opini

Liwu Mokesa : Antara Janji Politik dan Pembuktian Pembangunan Muna Barat

×

Liwu Mokesa : Antara Janji Politik dan Pembuktian Pembangunan Muna Barat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

Oleh : Hasan Jufri

OPINI (SULTRAAKTUAL.ID) – Visi “Muna Barat Liwu Mokesa” menjadi wajah baru pemerintahan Bupati La Ode Darwin dan Wakil Bupati Ali Basa. Slogan yang membawa semangat perubahan itu kini berhadapan dengan tantangan yang jauh lebih besar: bagaimana mengubah visi menjadi pembangunan yang benar-benar dirasakan masyarakat.

Liwu Mokesa tidak cukup hanya hadir dalam baliho, spanduk maupun berbagai seremoni pemerintahan. Ukuran keberhasilannya justru akan terlihat dari kondisi masyarakat di lapangan.

Apakah pendapatan petani meningkat? Apakah jalan produksi semakin baik? Apakah pelayanan kesehatan semakin mudah? Apakah kualitas pendidikan meningkat? Dan yang tidak kalah penting, apakah program pemerintah benar-benar menyentuh masyarakat sampai ke pelosok desa?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi pekerjaan rumah pemerintahan La Ode Darwin–Ali Basa.

Petani Keren, Seberapa Keren Dampaknya?

Sektor pertanian menjadi salah satu tulang punggung ekonomi masyarakat Muna Barat. Program Petani Keren diharapkan mampu meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan petani.

Namun, bantuan bibit maupun alat pertanian tidak boleh berhenti pada seremoni penyerahan.

Yang lebih penting adalah memastikan bantuan tepat sasaran, benar-benar digunakan, produktivitas meningkat dan petani memiliki kepastian pasar.

Persoalan klasik seperti keterbatasan air, irigasi, jalan usaha tani dan harga hasil produksi masih menjadi tantangan yang harus dijawab secara nyata.

Sebab, petani tidak hanya membutuhkan bantuan untuk menanam. Mereka membutuhkan kepastian bahwa hasil panennya dapat dipasarkan dengan harga yang menguntungkan.

Mubar Sehat dan Tantangan Pelayanan di Desa

Di bidang kesehatan, program Mubar Sehat membawa harapan agar masyarakat memperoleh pelayanan yang lebih dekat dan mudah.

BACA JUGA :  Pelajaran Penting Perang AS-Iran : Kesatuan Negeri-Negeri Islam Mampu Mengalahkan Hegemoni Global

Tetapi program kesehatan akan diuji oleh kondisi fasilitas kesehatan, ketersediaan tenaga medis, obat-obatan dan kemampuan pelayanan menghadapi kondisi darurat.

Masyarakat desa membutuhkan pelayanan yang hadir bukan hanya ketika program diluncurkan, tetapi setiap hari ketika mereka membutuhkan pertolongan.

Pendidikan: Jangan Hanya Bangun Gedung

Pembangunan dan revitalisasi sekolah tentu menjadi langkah penting.

Namun, pendidikan tidak hanya berbicara tentang bangunan.

Kualitas guru, fasilitas pembelajaran, akses siswa, prestasi akademik maupun nonakademik serta kemampuan lulusan harus menjadi indikator keberhasilan.

Gedung sekolah yang bagus harus berjalan beriringan dengan kualitas pendidikan yang bagus.

Infrastruktur Menjadi Ujian Nyata, Jalan dan jembatan merupakan urat nadi ekonomi masyarakat.

Bagi petani, jalan menentukan mudah atau sulitnya hasil produksi dibawa keluar. Bagi masyarakat desa, infrastruktur menentukan cepat atau lambatnya akses menuju fasilitas kesehatan, pendidikan dan pusat ekonomi.

Karena itu, pembangunan infrastruktur Liwu Mokesa harus menjawab kebutuhan konektivitas wilayah, bukan sekadar mengejar panjang jalan yang dibangun.

Kualitas pekerjaan, ketepatan sasaran, transparansi anggaran dan keberlanjutan pembangunan juga patut menjadi perhatian publik.

Hilirisasi: Jangan Berhenti pada Produksi

Muna Barat memiliki potensi besar di sektor pertanian, peternakan dan perikanan.

Namun, tantangan berikutnya adalah bagaimana hasil produksi tersebut dapat diolah sehingga menghasilkan nilai tambah.

Jagung, hasil perkebunan, ternak dan hasil laut harus memiliki rantai ekonomi yang jelas dari produksi, pengolahan, pemasaran hingga konsumen.

BACA JUGA :  Mega Proyek RSUD Muna Barat Mulai Disorot, Papan Proyek dan Keselamatan Pekerja Dipertanyakan

Jika hilirisasi berhasil, masyarakat tidak hanya menjadi produsen bahan mentah, tetapi juga dapat menjadi bagian dari industri pengolahan.

Liwu Mokesa Harus Terukur, Visi besar membutuhkan indikator yang jelas.

Masyarakat berhak mengetahui target pemerintah: berapa kilometer jalan yang akan dibangun, berapa banyak petani yang mendapatkan manfaat, berapa peningkatan produksi pertanian yang ditargetkan, bagaimana indikator kesehatan masyarakat, bagaimana kualitas pendidikan dan seberapa besar dampak program terhadap pendapatan masyarakat.

Transparansi menjadi penting agar masyarakat dapat ikut mengawasi perjalanan pembangunan.

Sebab pembangunan daerah bukan hanya urusan pemerintah. Masyarakat, DPRD, akademisi, media dan kelompok masyarakat sipil memiliki ruang untuk melakukan pengawasan.

Dari Slogan Menjadi Bukti

Pada akhirnya, Liwu Mokesa akan dinilai bukan dari seberapa sering slogan itu diucapkan, melainkan dari seberapa besar perubahan yang terjadi.

Jika petani semakin sejahtera, pelayanan publik semakin cepat, sekolah semakin berkualitas, fasilitas kesehatan semakin mudah dijangkau, infrastruktur semakin baik dan ekonomi masyarakat semakin tumbuh, maka Liwu Mokesa akan menemukan maknanya dalam kehidupan sehari-hari.

Namun sebaliknya, jika program hanya berhenti pada peluncuran, seremonial dan laporan administratif, publik tentu memiliki hak untuk mempertanyakan hasilnya.

Pemerintahan La Ode Darwin–Ali Basa kini memiliki kesempatan untuk membuktikan bahwa “Muna Barat Liwu Mokesa” bukan sekadar slogan politik, tetapi sebuah agenda pembangunan yang dapat diukur, diawasi dan dirasakan manfaatnya oleh masyarakat.

Karena pada akhirnya, masyarakat tidak membutuhkan slogan yang indah.

Masyarakat membutuhkan bukti.