OPINI (SULTRAAKTUAL ID)– Bagi masyarakat Muna Barat, sektor pertanian bukan sekadar urusan produksi pangan. Di balik sawah, kebun dan lahan tidur, ada kehidupan ribuan keluarga yang menggantungkan penghasilan dari hasil bumi.
Karena itu, ketika gagasan “Muna Barat Liwu Mokesa” hadir membawa janji perubahan ekonomi berbasis pertanian, pertanyaan yang paling penting bukan berapa banyak program yang diluncurkan.
Pertanyaannya jauh lebih sederhana : Apakah kehidupan petani benar-benar menjadi lebih baik?
Pertanyaan tersebut menarik jika periode 2020–2024 dibandingkan dengan 2024–2026, ketika gagasan Liwu Mokesa mulai diperkenalkan dan kemudian memasuki tahap implementasi pemerintahan baru.
2020–2024 : Pertanian Tetap Menjadi Sandaran
Pada periode 2020–2024, masyarakat Muna Barat telah lama menjadikan pertanian sebagai salah satu sumber penghidupan utama.
Petani menjalankan aktivitas produksi dengan berbagai persoalan klasik: biaya pengolahan lahan, pupuk, bibit, tenaga kerja, keterbatasan alat mesin pertanian, akses jalan produksi hingga pemasaran hasil panen.
Dalam kondisi tersebut, produksi yang tinggi belum tentu identik dengan kesejahteraan.
Petani bisa saja menghasilkan banyak komoditas, tetapi apabila biaya produksi tinggi dan harga jual di tingkat petani rendah, keuntungan yang tersisa tetap kecil.
Data BPS mengenai kondisi sosial-ekonomi daerah dapat menjadi salah satu cermin untuk melihat situasi tersebut. Namun, angka kemiskinan daerah tidak boleh serta-merta disebut sebagai angka kemiskinan petani karena indikator tersebut mencakup seluruh penduduk.
Yang jelas, persoalan kesejahteraan masih menjadi pekerjaan rumah Muna Barat.
2024 : Babak Baru Bernama Liwu Mokesa, Tahun 2024 menjadi titik penting.
Di tengah momentum Pilkada, gagasan Muna Barat Liwu Mokesa ditawarkan sebagai arah pembangunan baru. Salah satu fokusnya adalah mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor pertanian, perikanan, peternakan dan pariwisata.
Untuk sektor pertanian, gagasan yang ditawarkan antara lain pengolahan lahan pertanian dan lahan tidur dengan dukungan mekanisasi.
Di sinilah terdapat perbedaan pendekatan yang menarik.
Jika sebelumnya persoalan pertanian banyak berkutat pada bagaimana petani menghasilkan komoditas, Liwu Mokesa membawa gagasan yang lebih luas: bagaimana potensi lahan dapat dioptimalkan dan produksi pertanian menjadi motor pertumbuhan ekonomi daerah.
Namun sebuah visi tetap membutuhkan pembuktian. Pembuktiannya dimulai ketika pemerintahan baru bekerja.
2025 : Program Mulai Turun ke Lahan
Memasuki 2025, program pertanian yang dikaitkan dengan Liwu Mokesa mulai terlihat di lapangan.
Pemerintah Kabupaten Muna Barat menyiapkan 30.000 bibit padi gratis untuk sekitar 750 hektare. Selain itu, tersedia 22.500 kilogram bibit jagung kuning untuk sekitar 1.500 hektare.
Pemerintah juga mendorong penambahan alat mesin pertanian, termasuk rencana penambahan jonder atau traktor serta excavator untuk mendukung pengolahan lahan.
Untuk persawahan, pemerintah menargetkan perluasan dari sekitar 750 hektare menjadi 3.000–5.000 hektare pada 2026, dengan dukungan program cetak sawah baru dari pemerintah pusat.
Angka-angka tersebut menunjukkan adanya perubahan pendekatan.
Pertanian mulai diarahkan bukan hanya untuk mempertahankan aktivitas petani yang sudah ada, tetapi juga untuk memperluas areal produksi dan meningkatkan produktivitas melalui mekanisasi.
Tetapi Ada Pertanyaan yang Belum Selesai, di sinilah kritik yang berimbang diperlukan. Bantuan bibit merupakan hal positif. Alat mesin pertanian juga dapat mengurangi beban petani. Pembukaan lahan baru pun berpotensi meningkatkan produksi.
Tetapi semua itu baru merupakan input pembangunan. Ukuran keberhasilan sesungguhnya berada di ujung rantai.
Berapa pendapatan bersih petani setelah panen?
Jika seorang petani mendapatkan hasil panen lebih banyak tetapi harus mengeluarkan biaya produksi lebih besar, kesejahteraannya belum tentu meningkat.
Jika lahan pertanian bertambah tetapi tidak tersedia irigasi dan pasar yang memadai, produksi juga menghadapi risiko.
Jika produksi jagung dan padi meningkat tetapi harga jatuh ketika panen raya, petani tetap dapat berada pada posisi yang lemah.
Karena itu, Liwu Mokesa membutuhkan satu indikator yang paling mudah dipahami masyarakat: peningkatan pendapatan rumah tangga petani.
2026 : Tahun Pembuktian Awal
Memasuki 2026, Liwu Mokesa memasuki fase yang lebih menentukan.
Pemerintah sudah memiliki program dan target. Tetapi masyarakat mulai membutuhkan hasil yang dapat dirasakan. Bukan hanya jumlah bibit yang dibagikan. Bukan hanya jumlah traktor yang tersedia. Bukan hanya luas lahan yang dicetak. Melainkan, berapa banyak petani yang pendapatannya meningkat? berapa biaya produksi yang berhasil ditekan? berapa luas lahan tidur yang benar-benar produktif? berapa besar hasil produksi yang terserap pasar?.Dan yang paling penting apakah keluarga petani sekarang hidup lebih sejahtera dibandingkan lima tahun sebelumnya?
Pertanyaan tersebut wajar diajukan karena pemerintah sendiri menempatkan pertanian sebagai salah satu fondasi program Liwu Mokesa. Bahkan pada 2025, pemerintah mengaitkan program ketahanan pangan dengan upaya mewujudkan visi tersebut.
2020–2024 vs 2025–2026
Sebab 2025–2026 masih merupakan fase awal pelaksanaan.
Jangan Sampai Petani Hanya Menjadi Angka
Ada satu risiko yang harus dihindari.
Jangan sampai keberhasilan pertanian hanya diukur dari berapa hektare lahan yang dibuka dan berapa ton hasil yang dipanen, sementara pendapatan petani tidak menjadi indikator utama.
Petani membutuhkan kepastian.
Mereka membutuhkan pupuk yang tersedia dengan harga terjangkau, alat pertanian yang benar-benar dapat digunakan, jalan usaha tani yang baik, irigasi, akses pembiayaan, kepastian pasar dan harga jual yang memberikan keuntungan.
Sebab petani tidak hidup dari statistik produksi.
Petani hidup dari uang yang tersisa setelah hasil panennya terjual.
Liwu Mokesa Akan Diuji oleh Pendapatan Petani
Perbandingan 2020–2024 dengan 2025–2026 pada akhirnya bukan pertarungan politik mengenai pemerintahan lama dan pemerintahan baru.
Ini adalah ujian terhadap sebuah gagasan pembangunan.
Liwu Mokesa telah menawarkan harapan agar pertanian menjadi salah satu mesin pertumbuhan ekonomi Muna Barat.
Kini masyarakat berhak melihat hasilnya.
Jika produksi meningkat, tetapi pendapatan petani ikut meningkat, maka ada indikasi kuat bahwa kebijakan mulai memberikan manfaat.
Jika lahan tidur berubah menjadi lahan produktif dan mampu menciptakan sumber pendapatan baru, maka program mulai menunjukkan hasil.
Namun jika produksi meningkat sementara petani tetap kesulitan memenuhi kebutuhan hidup, maka pemerintah perlu mengevaluasi kembali rantai pertaniannya.
Di situlah Liwu Mokesa akan benar-benar diuji.
Bukan di panggung kampanye.
Bukan dalam baliho.
Bukan pula hanya dalam laporan program.
Tetapi di sawah, kebun, pasar dan rumah-rumah petani Muna Barat.
Karena ukuran paling sederhana dari sebuah pembangunan adalah ketika masyarakat yang menjadi sasaran program benar-benar merasakan perubahan.
Muna Barat Liwu Mokesa pada akhirnya bukan hanya tentang membangun daerah yang terlihat lebih baik, tetapi tentang memastikan petaninya benar-benar hidup lebih layak.









