OPINI (SULTRAAKTUAL.ID) – Pada perayaan Maulid, umat Islam senantiasa berkumpul dengan penuh ungkapan rasa syukur dan suka cita. Semuanya direfleksikan dengan mengumandangkan selawat, doa bersama, zikir bersama, tabligh akbar digelar bahkan pawai turun ke jalan. Moment ini sungguh berharga bagi kaum Muslimin pada setiap tahunnya.
Namun tidak berhenti sampai di sini saja, perayaan maulid sejatinya tidak hanya dimaknai pada aspek ritual dan emosional semata. Ada subtansi lebih penting yang tidak boleh kita lupakan terhadap makna sejati di balik seremonial maulid.
Pembahasan ittiba’ tidak berhenti pada pembahasan bagaimana meneladani akhlak Nabi Muhammad SAW secara personal. Kita memang diperintahkan untuk mencontoh sikap, kejujuran, kesabaran, kasih sayang beliau. Semua itu tentu penting. Namun, keteladanan kepada Nabi Muhammad SAW seharunsya tidak berhenti pada aspek akhlak dan ritual, tetapi juga mencakup keterikatan terhadap risalah dan perjuangan yang beliau bawa.
Inilah bukti cinta. Yakni kecintaan pada Rasulullah Muhammad SAW harus dibuktikan dengan melihat bagaimana perjuangan dakwah Nabi dan kepemimpinan Rasulullah dalam membangun peradaban Islam.
Mengambil hikmah dari keteladan Nabi Muhammad SAW artinya kita mengajak umat Islam untuk kembali pada ajaran Islam yang Kaffah (menyeluruh). Sebab saat ini kita saksikan, bagaimana umat begitu jauh dengan aturan Islam. Kita mengambil aturan Islam hanya pada urusan ibadah ritual semata, tapi pada aspek ekonomi dan politik, aturan Islam tak pernah dilirik. Lebih parahnya, saat ini kita hidup dengan dominasi sekularisme di tengah kehidupan, yang membuat umat jauh dari aturan agama. Karena itu, maulid semestinya menjadi momentum untuk kembali memahami bagaimana Rasulullah Muhammad SAW memperjuangan perubahan di tengah masyarakat, yakni perubahan menuju diterapkannya peradaban Islam yang mulia.
Allah SWT berfirman “Wahai orang-orang beriman, masuklah ke dalam Islam secara menyeluruh dan janganlah ikuti langkah-langkah setan. Sesungguhnya ia musuh yang nyata bagimu” (TQS Al-Baqarah : 208)
Mengambil hikmah maulid artinya meneladani apa saja risalah yang dibawa Nabi Muhammad SAW dalam kehidupan ini dalam rangka memperbaiki keadaan umat menuju kemuliaan Islam yang hakiki. Karena sejatinya jika kita cinta Nabi, kita juga cinta syariah.
Jika kita membaca sejarah, kita akan menemukan bagaimana perjuangan Rasulullah. Ketika membawa cahaya Islam di tengah kondisi jahiliyah masyarakat Arab. Rasulullah membawa risalah Islam dan menghapus segala bentuk penghambaan kepada selain-Nya. Perjuangan beliau tidak hanya mengajak individu menjadi baik, tetapi juga membangun kehidupan yang menjadikan aturan Allah sebagai pedoman hidup.
Mengambil hikmah maulid artinya dibuktikan dengan memperjuangkan apa yang beliau wariskan, yakni Al-Qur’an dan As-Sunnah sebagai aturan hidup.
Dalam menjalankan ketaatan pada Allah dan Rasul-Nya, kita tidak boleh pilih-pilih, melainkan harus mengambil aturan itu secara menyeluruh. Sebab hakikat mencintai Nabi Muhammad SAW bukan sekadar rasa rindu atau ucapan lisan melainkan dibuktikan dengan amal, berupa kesiapan untuk taat dalam segala aspek kehidupan secara mutlak.
Dengan demikian, wajib dan penting bagi umat Islam menyadari esensi ittiba’ kepada Nabi Muhammad SAW. Mengikuti Rasulullah Shallallahu Allaihi Wassalam bukan sekadar dicukupkan pada selawat atau meniru akhlak beliau secara individul, tetapi juga memahami risalah Islam dan cara beliau mendakwahkannya. Dalam perspektif ini, persoalan umat tidak cukup diselesaikan dengan perubahan individu semata, tetapi membutuhkan perubahan kehidupan yang berlandaskan syariat Islam.
Walhasil, rekomendasi bagi umat Islam hari ini tidak lain adalah menjadikan peringatan maulid Nabi Muhammad SAW sebagai momentum membangkitkan kesadaran umat Islam akan jati dirinya sebagai umat terbaik. Wallahu alam bi ash shawwab.









