MUNA BARAT (SULTRAAKTUAL.ID) – Keluhan seorang penumpang terkait akses toilet di kawasan Pelabuhan Tondasi, Kecamatan Tiworo Utara, Kabupaten Muna Barat, mendapat penjelasan dari pihak pengelola pelabuhan.
Sebelumnya, seorang penumpang kapal feri tujuan Kendari berinisial NI (26) mengeluhkan kondisi toilet yang tidak dapat digunakan ketika dirinya hendak buang air. Saat mendatangi fasilitas tersebut, ia mendapati pintu WC dalam keadaan terkunci.
NI kemudian berupaya mencari petugas untuk menanyakan mengenai kunci toilet. Namun, menurut keterangannya, sejumlah pegawai yang berada di sekitar kawasan pelabuhan tidak mengetahui siapa yang memegang kunci.
“Saya mau buang air, baru WC Pelabuhan Tondasi terkunci. Saya sudah tanya pegawainya, tetapi tidak ada yang tahu siapa yang pegang kuncinya,” ujar NI.
Namun, kondisi tersebut tidak serta-merta menunjukkan adanya kelalaian dari pihak pengelola Pelabuhan Tondasi.
Kepala UPTD Pelabuhan Tondasi, La Ode Rompu, menjelaskan bahwa toilet tersebut memang sengaja ditutup sementara karena mengalami gangguan teknis berupa penyumbatan.
Menurutnya, toilet tidak dapat digunakan karena kondisinya tersumbat sehingga apabila tetap dibuka dan digunakan justru berpotensi menimbulkan persoalan sanitasi yang lebih serius.
“WC ditutup sementara karena tersumbat sehingga tidak bisa dipakai,” jelas La Ode Rompu. Minggu, (20/9/2026).
Penutupan toilet tersebut, kata La Ode Rompu, bukan dilakukan tanpa alasan. Pihak pengelola mengambil langkah tersebut karena fasilitas sedang mengalami gangguan dan belum memungkinkan untuk digunakan.
Persoalannya, fasilitas toilet yang tersedia di kawasan Pelabuhan Tondasi saat ini hanya satu unit.
“WC yang tersedia hanya unit itu saja,” ujarnya.
Kondisi inilah yang kemudian membuat pengguna jasa tidak memiliki pilihan lain ketika toilet utama sedang mengalami kerusakan.
Dengan demikian, persoalan yang terjadi lebih berkaitan dengan keterbatasan fasilitas dan kendala teknis yang sedang dihadapi, bukan semata-mata karena petugas tidak memberikan akses kepada penumpang.
Sebagai fasilitas publik, keberadaan toilet memang menjadi kebutuhan penting bagi penumpang. Namun, ketika fasilitas tersebut mengalami kerusakan atau penyumbatan, pengelola tentu harus mengambil langkah untuk sementara waktu menutupnya demi menjaga kondisi sanitasi.
KUPTD Pelabuhan Tondasi berada pada posisi harus menjaga agar fasilitas yang tersedia tetap dapat digunakan secara layak. Membuka toilet yang sedang tersumbat tanpa terlebih dahulu melakukan penanganan justru berpotensi memperburuk kondisi fasilitas.
”Di sisi lain, keterbatasan jumlah toilet menjadi pekerjaan rumah yang perlu mendapat perhatian ke depan. Sebab, ketika satu-satunya fasilitas mengalami gangguan, pengguna jasa secara otomatis ikut terdampak,” katanya pula
Keluhan penumpang tersebut pun menjadi gambaran bahwa fasilitas pendukung di Pelabuhan Tondasi masih membutuhkan penguatan. Namun, penting untuk melihat persoalan secara utuh bahwa toilet yang terkunci bukan semata-mata persoalan pelayanan petugas, melainkan akibat fasilitas yang sedang mengalami gangguan teknis.
KUPTD Pelabuhan Tondasi sendiri telah memberikan penjelasan mengenai kondisi tersebut. Penanganan terhadap fasilitas yang tersumbat menjadi bagian penting agar toilet dapat kembali digunakan dan pelayanan kepada pengguna jasa berjalan normal.
Di tengah keterbatasan fasilitas, pengelola pelabuhan diharapkan terus melakukan perbaikan dan mencari solusi agar kebutuhan dasar pengguna jasa tetap dapat terpenuhi, terutama pada saat fasilitas utama mengalami gangguan.
Toilet Pelabuhan Tondasi Terkunci, KUPTD Jelaskan Kondisi Sebenarnya









