Opini

Muharam, Momentum Perubahan Menuju Kebangkitan Islam

×

Muharam, Momentum Perubahan Menuju Kebangkitan Islam

Sebarkan artikel ini
Rima Septiani S.Pd.,Gr.

Oleh : Rima Septiani S.Pd.,Gr

OPINI (SULTRAAKTUAL.ID) – Memasuki bulan muharam 1448 H, umat Islam di berbagai belahan dunia kembali menyambut Tahun Baru Hijriah. Namun di balik perayaan rutin tahunan ini, tersimpan sebuah realitas yang tak bisa diabaikan.

Berbagai persoalan terus membelit kehidupan hari ini, mulai dari kemiskinan, ketimpangan ekonomi, kerusakan moral, konflik berkepanjangan di negeri-negeri muslim, hingga penderitaan mendalam yang dialami oleh saudara-saudara kita di Palestina.

Oleh karena itu, muharam tidak sekadar dimaknai sebagai seremonial rutin dan sebagai pergantian angka dalam kalender Islam semata. Lebih dari itu, muharam mengingatkan kita pada persitiwa hijrah Rasulullah SAW di mana peristiwa itu adalah sebuah langkah perubahan besar yang mengubah kondisi umat dari keterpurukan menuju kemuliaan.

Oleh karena itu, kata hijrah bukan sekadar bepindah tempat tetapi berpindah cara berpikir, cara bertindak, dan sistem yang mengatur kehidupan.
Sejarah mencatat bahwa persitiwa hijrah Nabi Muhammad SAW dari Makkah ke Madinah bukan sekadar perpindahan fisik demi mencari rasa aman, melainkan sebuah strategi besar sekaligus titik balik politik yang meletakan fondasi akidah Islam bagi kejayaan peradaban Islam.

Karena itu, spirit hijrah yang perlu dihadirkan pada muharam 1448 H adalah hijrah secara total. Meninggalkan aturan yang bertentangan dengan syariat Islam menuju penerapan Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Sebagaimana Rasulullah SAW menjadikan hijrah sebagai jalan menuju tegaknya kehidupan Islam, umat hari ini perlu menjadikan muharam sebagai titik balik perjuangan menuju kemuliaan yang hakiki.

Jika kita melihat potret kondisi umat Islam yang hari ini mengalami keterpurukan, sejatinya ini menjadi alarm dan tantangan besar bagaimana kita berjuang mengubahnya.

Lihat saja, berbagai krisis kemanusiaan dan ketimpangan sosial masih menjadi tantangan besar. Penindasan yang belum berkesudahan di Palestina, ketimpangan ekonomi global akibat penerapan kapitalisme, serta carut marut problem domestik, menuntut adanya evaluasi atau muhasabah. Untuk itulah, pergantian tahun hijriah merupakan waktu yang tepat bagi umat untuk bertanya pada diri sendiri, sejauh mana kontribusi kita dalam mengentaskan keterpurukan ini?
Bagi generasi muda, muharam bisa menjadi momentum untuk melakukan “reset”.

Bukan hanya memperbaiki diri secara pribadi, tetapi juga meningkatkan kesadaran tentang kondisi umat dan mencari solusi yang benar berdasarkan ajaran Islam. Generasi muda tidak boleh menjadi penonton yang sibuk mengurusi hal yang sia-sia, tetapi harus menjadi bagian dalam perjuangan kemenangan Islam.

Generasi muda harus berani meninggalkan pola pikir yang membuat mereka tertingal beralih kepada pola pikir Islam yang menjadikan wahyu sebagai pedoman hidup. Untuk itulah muharam seharusnya menjadi momentum muhasabah sekaligus titik balik perjuangan. Menjadikan muharam sebagai pengingat bahwa umat Islam perlu bangkit karena berpegang teguh pada ajaran Islam, dan hanya dengan kembali menjadikan Islam sebagai pedoman hidup secara menyeluruh agar kemuliaan sebagai umat terbaik dapat diraih kembali.

Sesungguhnya, kebangkitan tidak akan lahir dari sikap apatis atau kepasrahan, melainkan dari kesadaran bahwa kondisi umat harus diubah secara struktural yang komprehensif (kaffah). Muharam adalah momentum emas untuk memperkuat komitmen, menyatukan langkah, dan mengubah arah perjuangan demi mengembalikan posisi umat Islam pada kemuliaan hakiki.






BACA JUGA :  Penyimpangan Seksual Menjerat Korban Anak
error: Content is protected !!