Oleh : Rima Septiani S.Pd (Freelance Writer)
OPINI (SULTRAAKTUAL.ID) – Memaknai Iduladha bukan hanya sekadar mengaitkannya dengan ibadah ritual kurban yang identik dengan sapi, kambing dan pembagian daging.
Namun, ketika kita menelusuri kisah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s., kita akan menemukan makna yang lebih dalam. Pelaksanaan kurban oleh kaum muslim selalu dikaitkan dengan peristiwa agung pengorbanan Nabi Ibrahim a.s. dalam menaati perintah Allah Swt. untuk menyembelih putranya, Ismail a.s. Bagi Nabi Ibrahim a.s. Ismail adalah buah hati, harapan dan cintanya yang telah sangat lama didambakan. Akan tetapi, di tengah rasa bahagia itu, turunlah perintah Allah Swt. kepada Nabi Ibrahim a.s. untuk menyembelih putra kesayangannya itu.
Sebagaimana Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Ash-Shaffat ayat 102 , “Anakku, sungguh aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Karena itu pikirkanlah apa pendapatmu.”
Menghadapi perintah itu, Nabi Ibrahim a.s. mengedepankan kecintaan yang tinggi dan ketaatan kepada Allah Swt. Ia menyingkirkan kecintaan kepada selain-Nya, yakni kecintaan kepada anak, harta dan dunia.
Perintah untuk taat itu amat berat, namun disambut oleh putranya Ismail a.s. dengan penuh kesabaran dan ketaatan. Ini sebagaimana dikisahkan dalam firman Allah Swt. dalam surah Ash-Shaffat ayat 102, “Ayah, lakukanlah apa yang telah Allah perintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapati aku termasuk orang-orang yang sabar.”
Nabi Ibrahim a.s. rela mengorbankan perasaannya sebagai seorang ayah. Nabi Ismail a.s. rela mengorbankan dirinya demi menaati Allah. Keduanya mengajarkan bahwa keimanan tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus dibuktikan melalui tindakan.
Demikianlah bukti ketaatan berpadu kesabaran yang dicontohkan oleh Nabiyullah Ibrahim a.s. Kisah cinta yang amat romantis sekaligus dramatis. Nabi Ibrahim membuktikan cinta dan ketaatan pada Allah, Dzat yang lebih ia cintai dari apapaun.
Ia mengorbankan putra semata wayangnya tersebut, tanpa sedikitpun keraguan dalam hatinya.
Dari sini kita bisa melihat momen penting dari pelaksanaan ibadah kurban. Sebuah kecintaaan, pengorbanan dan ketaatan yang sempurna Nabi Ibrahim a.s. mengorbankan segalanya termasuk nyawa sekalipun demi tegaknya agama Allah Swt. ini.
Sebagaimana makna kurban yang artinya dekat, yakni dengan Allah Swt. Nabi Ibrahim a.s. telah membuktikan ketaatannya dengan penuh ketulusan. Perintah Allah sekaligus ujian bagi Nabi Ibrahim, mengingatkan kita semua bahwa anak adalah titipan dari Allah. Amanah yang Allah berikan kepada kita yang kapanpun diambil oleh-Nya.
Sangat penting untuk kita cermati, sesungguhnya esensi sangat besar dan fundamental dalam ibadah kurban bukan semata soal mengucurkan darah dan membagikan daging. Namun soal ketakwaan kepada Allah. Saling menjaga ketaatan dan kepatuhan terhadap Allah, itulah makna kurban sesungguhnya.
Kisah Nabi Ibrahim a.s. dan Nabi Ismail a.s. tersebut telah menjadi teladan bagi kaum muslim saat ini. Teladan dalam pelaksanaan ibadah kurban. Juga teladan dalam ketaatan, perjuangan dan pengorbanan demi mewujudkan ketaatan pada aturan Allah Swt. secara Kaffah.
Wujud ketaatan kepada Allah Swt. itu adalah penerapan seluruh syariah Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Mulai dari individu, keluarga, masyarakat hingga negara. Allah Swt. berfirman dalam Al-Qur’an surah Al-Baqarah ayat 208, “Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu adalah musuh nyata kalian.”
Oleh karena itu, individu, masyarakat dan pemimpin serta kaum muslimin seluruhnya diminta untuk menyempurnakan ketaatan serta siap berkorban untuk mendapatkan solusi. Maka momentum kurban sejatinya menjadi refleksi bagi kita untuk kembali pada jalan ketakwaan.
Seharusnya juga menguatkan
kesadaran seluruh komponen umat untuk menyempurnakan ketaatan pada seluruh aturan Allah Swt. Menguatkan tekad untuk berkorban dengan seluruh daya upaya demi tegaknya aturan Allah Swt. dalam kehidupan.









