Oleh : Nurfahmi Hidayah Lukman
OPINI (SULTRAAKTUAL.ID) – Pemimpin Tertinggi Iran, Mojtaba Khamenei, secara terbuka menggaungkan klaim kemenangan negaranya dalam persaingan geopolitik melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel. Putra dari Ayatullah Ali Khamenei itu menegaskan, bahwa ketahanan Iran di tengah tekanan internasional telah menjadikan Teheran sebagai sumber inspirasi bagi bangsa-bangsa lain di dunia. (Media Indonesia, 10/4/2026)
Iran mengumumkan kemenangan dengan menyebutkan “kekalahan bersejarah dan telak” bagi Amerika Serikat dan rezim Israel setelah 40 hari perang. AS mengumumkan terpaksa menerima proposal 10 poin dari Iran yang mencakup gencatan senjata permanen, pencabutan semua sanksi, dan penarikan pasukan tempur AS dari kawasan tersebut. (Viva.co.id, 8/4/2026)
Di sisi lain, Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengatakan bahwa Amerika Serikat telah mencapai semua tujuan militernya di Iran dan menggambarkan situasi tersebut sebagai “kemenangan penuh” setelah gencatan senjata. Trump juga mengatakan bahwa rencana 10 poin yang diajukan oleh Teheran tampaknya memberikan dasar bagi negosiasi. (Antara News, 8/4/2026)
Perbedaan klaim ini justru mengungkap satu fakta penting bahwa Amerika Serikat dan Israel ternyata tidak sekuat yang selama ini dibayangkan dunia. Menghadapi satu negara Muslim saja, mereka tidak mampu meraih kemenangan mutlak. Bahkan, AS tidak berhasil memaksa sekutu-sekutunya untuk terlibat langsung dalam konflik tersebut. Hal ini menunjukkan bahwa aliansi global pun sangat bergantung pada kepentingan, bukan loyalitas.
Di tengah situasi ini, justru tampak ironi di dunia Islam sendiri. Sebagian penguasa negeri Muslim masih memilih bersekutu dengan AS, alih-alih membangun kekuatan bersama. Sikap ini secara tidak langsung melemahkan posisi umat Islam di kancah global dan memperpanjang ketergantungan terhadap kekuatan asing.
Dari sini terlihat jelas bahwa persoalan utama umat bukan sekadar lemahnya kekuatan, tetapi terpecahnya persatuan. Padahal, jika satu negara saja mampu memberikan perlawanan signifikan, maka potensi kekuatan dunia Islam secara kolektif sebenarnya jauh lebih besar. Kesatuan negeri-negeri Muslim bukan sekadar wacana ideal, tetapi kebutuhan strategis untuk menghadapi hegemoni global.
Sayangnya, realitas politik hari ini menunjukkan bahwa tidak ada aliansi yang benar-benar permanen. Setiap negara bergerak berdasarkan kepentingannya masing-masing. Inilah yang membuat dunia Islam terus berada dalam posisi lemah, karena tidak memiliki kepemimpinan tunggal yang mampu menyatukan visi dan kekuatan.
Oleh karena itu, membangun kesadaran umat tentang urgensi persatuan menjadi langkah mendasar yang tidak bisa ditunda. Kesatuan negeri-negeri Muslim yang terikat dalam satu institusi kepemimpinan Islam diyakini akan mampu menjadi kekuatan global baru yang tidak hanya mandiri, tetapi juga disegani.
Dalam perspektif Islam, kesatuan ini tidak sekadar bersifat geografis atau politis, melainkan ideologis, yaitu disatukan oleh akidah dan tujuan yang sama. Kepemimpinan Islam yang menyatukan umat diyakini mampu membebaskan negeri-negeri Muslim dari penjajahan, menghentikan ketergantungan terhadap kekuatan asing, serta menghadirkan keadilan bagi seluruh umat manusia.
Lebih dari itu, kepemimpinan tersebut tidak hanya berorientasi pada kekuasaan, tetapi juga pada penyebaran nilai-nilai Islam melalui dakwah dan jihad dalam makna yang syar’i. Dengan demikian, Islam tidak hanya hadir sebagai solusi bagi umatnya, tetapi juga sebagai rahmat bagi seluruh alam.
Sehingga pada akhirnya, konflik AS-Iran ini bukanlah sekadar soal siapa menang atau kalah, tetapi membuka mata dunia bahwa dominasi global bukanlah sesuatu yang tidak bisa ditandingi. Jika satu negeri saja mampu berdiri menghadapi tekanan besar, maka kesatuan negeri-negeri Islam memiliki potensi jauh lebih besar untuk mengubah peta kekuatan dunia.
Wallahu A’lam Bishawwab

