Oleh : Suwaririn S.Pd (Aktivis muslimah)
OPINI (SULTRAAKTUAL.ID) – Pendidikan sangat penting bagi manusia untuk membentuk pemikirannya dalam menjalani kehidupan.
Hubungan pendidikan dengan manusia tidak terlepas dari cara pandang dengan mengambil keputusan masing-masing individu dan masyarakat agar terarah dengan benar.
Tetapi fakta yang terlihat, pendidikan di jadikan hanya untuk mencari pekerjaan semata yang akhirnya pendidikan itu menjadi terbatas. Masyarakat yang mudah mendapatkan lapangan pekerjaan di tentukan sesuai target pertumbuhan ekonomi. Akibat dari semua ini muncul opini tentang penghapusan jurusan perkuliahan.
Di lansir dari media online Tempo.co Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menyampaikan wacana menutup program studi yang dianggap tidak lagi relevan dengan industri.
Sekretaris Jenderal Kemdiktisaintek Badru Munir Sukoco mengatakan wacana menutup prodi dilakukan untuk menekan kesenjangan antara lulusan kampus dan kompetensi yang diperlukan dunia kerja. Akibatnya, kata dia, kebutuhan di lapangan acap kali tidak cocok dengan latar pendidikan sarjana.
“Nanti mungkin ada beberapa yang harus kami eksekusi dalam waktu tidak terlalu lama terkait dengan prodi-prodi, perlu kita pilih. Kalau perlu ditutup untuk bisa meningkatkan relevansi,” kata Badru di Kabupaten Badung, Bali pada Kamis, 23 April 2026.
Di sisi lain, di tengah gencarnya wacana pemerintah untuk mengevaluasi bahkan menutup program studi (prodi) yang dianggap “tak laku” di pasar kerja, dua nahkoda perguruan tinggi besar di Malang justru menyuarakan perlawanan terhadap logika tersebut.
Rektor Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) dan Universitas Islam Malang (Unisma) kompak mengirimkan pesan kuat. Pendidikan tinggi tidak boleh diringkas hanya menjadi manufaktur pencetak pekerja. Rektor UMM, Prof. Dr. Nazaruddin Malik, gagasan bahwa sebuah bidang ilmu bisa menjadi “jenuh” adalah kekeliruan fundamental.
Melihat Wacana penghapusan jurusan perkuliahan harus menyesuaikan standar dunia kerja. Ini menggambarkan kepada kita bahwa kecendrungan pendidikan itu sangat di tentukan oleh keinginan bisnis bagi penguasa dan para elit di luar sana.
Apa penyebab nya? Ini terjadi karena negara mengadopsi liberalisme – sekulerisme, PT menyesuaikan dengan tuntutan dunia industri-industri. Kemudian pendidikan pun mengikuti dan menyesuaikan arah pandang industrilisasi, karakter pembelajar menjadikan seseorang hedonis,matrealistis,individualis dan pragmatis.
Negara lepas tanggung jawab terhadap kebutuhan SDM untuk melayani urusan rakyat. Kebijakan yang diambil merupakan reaksi dan respons terhadap berbagai macam kepentingan yang saling bersaing kontruksi. Pendidikan saat ini berbeda dengan cara pandang Islam.
Dalam Islam Negara memiliki kebutuhan untuk mencetak seorang Ahli di beberapa bidang, sesuai kebutuhan SDM dalam melayani urusan rakyatnya, karena tugas pokok Negara dalam Islam adalah melayani rakyatnya.
Tujuan dari pendidikan Islam adalah untuk membangun kepribadian Islam serta penguasaan ilmu kehidupan seperti matematika, sains, teknologi dan rekayasa bagi peserta didik.
Hasil belajar (output) pendidikan Islam akan menghasilkan peserta didik yang kokoh keimanannya dan mendalam pemikiran Islamnya (tafaqquh fiddin). Pengaruhnya (outcome) adalah keterikatan peserta didik terhadap hukum Allah SWT (bertakwa).
Dampaknya (impact) adalah tegaknya amar makruf nahi mungkar di tengah masyarakat, tersebarnya dakwah dan jihad ke penjuru dunia.
Sementara dunia Pendidikan (termasuk pendidikan tinggi) adalah tanggung jawab langsung Negara, Negara yang harus menentukan mulai dari Visi-Misi Pendidikan, Kurikulum dan pembiayaan untuk SDM Pendidikan dan sarana prasarananya, serta Negara harus mandiri dalam mengelola Pendidikan Tinggi. Tidak bergantung pada negara lain, baik dalam negeri maupun luar negeri. Karena negara wajib bersandar kepada syariat Islam.
Demikian seperti yang disabdakan Rasulullah saw., “Seorang imam (khalifah) adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat dan ia akan dimintai pertanggungjawaban atas urusan rakyatnya.” (HR al-Bukhari dan Muslim).
Waallahu a’lam bi’shawwab.









