Oleh : Giovanny Sincilia Awang
OPINI (SULTRAAKTUAL.ID) – Dunia pendidikan kembali tercoreng oleh kasus kekerasan yang berujung pada kematian seorang pelajar. Polisi berhasil menangkap dua pelaku penganiayaan pelajar di Bantul setelah melakukan serangkaian penyelidikan.
Korban, Ilham Dwi Saputra (16), meninggal dunia akibat pengeroyokan brutal yang terjadi pada 14 April 2026 di wilayah Pandak.
“Di lokasi tersebut korban dikeroyok secara sadis, brutal, keji, tidak manusiawi, dan tanpa ampun oleh para pelaku. Korban dipukul menggunakan selang, paralon, hingga disundut rokok. Bahkan, korban dilindas sepeda motor berulang kali,” ungkapnya.
“Peristiwa bermula saat korban dijemput dan dibawa ke lokasi sepi sebelum dikeroyok sekitar 10 orang. Polisi telah menetapkan dua tersangka dan masih memburu lima pelaku lain yang identitasnya sudah diketahui berdasarkan keterangan dari dua pelaku yang diamankan,'” ujar Rita.
Motif sementara diduga terkait aksi balas dendam.
Lagi dan lagi terjadi kasus yang menyayat hati. Inilah wajah pendidikan Indonesia hari ini, guru diinjak, siswa ditindas. Potret buram wajah kapitalis. Pendidikan kita sedang sekarat. Stop bilang “baik-baik saja”. Skor PISA kita stagnan di papan bawah. Siswa bunuh diri karena tekanan sekolah. Guru dipenjara karena menegur murid.
Sementara itu, biaya sekolah lebih mahal daripada pendapatan orang tua. Kalau ini bukan potret buram, lalu apa? Ini bukan lagi krisis. Ini darurat.
Pertama, negara mengkhianati gurunya. Kita teriak “guru pahlawan tanpa tanda jasa”, tapi memperlakukan mereka seperti kuli administrasi. Kurikulum ganti tiap menteri menjabat, seolah pendidikan cuma proyek mercusuar. Guru honorer digaji di bawah UMR, tapi dituntut mencetak generasi emas. Beban RPP, akreditasi, dan laporan dana BOS menggerogoti waktu mengajar. Hasilnya, Guru hadir di kelas hanya raga, jiwanya habis di meja tumpukan kertas.
Kedua, sekolah hanya jadi pabrik ijazah. Kita obsesif dengan angka. Nilai 100, akreditasi A, tingkat kelulusan 99%. Tapi otak kosong. Siswa jago menghafal, lumpuh saat disuruh menerapkan. Tawuran, bullying, pelecehan seksual di sekolah bukan lagi berita baru. Itu alarm bahwa pendidikan karakter kita mati suri. Kita sibuk mencetak “lulusan”, bukan “manusia”. Banyak yang mengeluh karena sarjana banyak, tapi yang kompeten hanya sedikit.
Ketiga, pendidikan resmi jadi barang dagang. Katanya pendidikan hak setiap warga negara. Faktanya? Hak itu ada harganya dan mahal. Sekolah negeri unggulan diam-diam pasang tarif lewat “sumbangan sukarela” yang memaksa. Sekolah swasta elit jual gengsi dengan SPP jutaan per bulan. Pendidikan berkualitas kini jadi privilege orang kaya. Yang miskin silakan sekolah di bangunan reot dengan guru yang datang seminggu sekali. Ini bukan sistem pendidikan. Ini apartheid versi akademik.
Islam sudah mengatur sedemikian rapi solusi atas masalah yang terjadi. Mulai dari masalah kecil hingga besar. Tapi banyak manusia enggan memakai aturan dari sang Pencipta. Fenomena ini tentu akan terus terjadi selama yang diterapkan adalah sistem Kapitalisme yang rakus yang hanya memihak pada segelintir pihak yang dominan, berbeda dengan sistem Islam dalam pengaturan lingkup kecil mulai dari masalah bangun tidur hingga bangun negara. Rasulullah SAW bersabda, “Imam (pemimpin) adalah raa’in (pengurus/pemelihara) dan ia bertanggung jawab atas rakyatnya” (HR Bukhari dan Muslim).
Di dalam Islam, pendidikan bukan cuma transfer ilmu, tapi juga membentuk karakter kepribadian Islam yang mencerdaskan akalnya, lurus akidahnya. Kalau tujuannya sudah jelas, solusinya jadi sistemik, bukan tambal sulam.
Peran negara sangat penting bagi dunia pendidikan. Negara memiliki kewajiban untuk mengontrol Pendidikan yang layak bagi seluruh warga negara. Oleh karena itu, penyelesaian masalah ini tidak dapat dilakukan oleh individu atau kelompok, butuh peran negara dalam mengupayakan setiap permasalahan di sekolah baik guru maupun siswanya.
Negara wajib menyebar guru kompeten dan sarana merata, siswa harus saling menyayangi dan menjaga bukan berantem dan saling membunuh. Ini bukan dunia pendidikan yang dulu. Ini sudah kasus kriminal. Harus ada sanksi tegas bagi orang yang membunuh, karena di dalam islam nyawa manusia itu sangat berharga. Bahkan ketika nyawa manusia hilang orang yang membunuh tadi harus dikenakan konsekuensi hal yang sama, agar kejadian seperti ini tidak terulang kembali.
Kurikulum wajib membentuk pola pikir dan pola sikap Islam agar siswa maupun guru sama sama di hargai dan dihormati.
Semoga dengan kesadaran dan di terapkannya sistem Islam dapat menjadikannya Rahmat Allah turun untuk negeri ini. Dengan adanya kepemimpinan dengan orientasi kepada manusia inilah yang kita butuhkan saat ini untuk menyelesaikan setiap persoalan yang ada. Bukan orientasi kepada angka, kepentingan pihak tertentu bahkan pencitraan semata.
Wallahualam bishawab’









