MUNA BARAT (SULTRAAKTUAL.ID) — Musibah kebakaran kembali menjadi persoalan yang menghantui masyarakat Kabupaten Muna Barat (Mubar), Sulawesi Tenggara.
Dalam beberapa waktu terakhir, sejumlah bangunan milik warga menjadi korban amukan si jago merah.
Bukan hanya kerugian material yang menjadi persoalan, kecepatan api melahap bangunan juga kembali memunculkan pertanyaan mengenai kesiapan sarana dan prasarana pemadam kebakaran di daerah tersebut.
Keterbatasan armada pemadam kebakaran dinilai menjadi salah satu kendala dalam penanganan ketika bencana kebakaran terjadi.
Saat api mulai membesar, waktu menjadi faktor yang sangat menentukan. Semakin lama petugas tiba di lokasi, semakin besar pula peluang api menjalar dan menghanguskan bangunan.
Saat ini, fasilitas pemadam kebakaran di Muna Barat disebut hanya berada di satu titik, yakni di Kelurahan Wamelai, Kecamatan Lawa.
Kondisi tersebut membuat jangkauan pelayanan pemadam kebakaran menjadi terbatas, terutama ketika kebakaran terjadi jauh dari lokasi armada. Persoalan ini pun mendapat perhatian dari kalangan mahasiswa.
Irfan, salah satu mahasiswa Muna Barat, mengingatkan Pemerintah Daerah agar segera melakukan evaluasi terhadap fasilitas pemadam kebakaran, termasuk menambah armada dan memperluas titik penempatan kendaraan pemadam.
Menurutnya, penempatan armada tidak cukup hanya terpusat di satu wilayah. Muna Barat memiliki wilayah yang cukup luas sehingga diperlukan sistem penanganan kebakaran yang lebih dekat dengan masyarakat.
Ia mengusulkan agar armada pemadam kebakaran ditempatkan di tiga wilayah strategis, yakni Kusambi Raya, Lawa Raya, dan Tiworo Raya.
“Pemerintah daerah harusnya menambah armada pemadam kebakaran. Disimpan di tiga wilayah agar memudahkan penanganan ketika terjadi bencana kebakaran,” beber Irfan, Selasa (11/8/2026).
“Jangan menunggu api membesar
bagi masyarakat, keberadaan armada pemadam kebakaran bukan sekadar fasilitas pemerintah,” lanjut Irfan.
Dalam situasi darurat, kendaraan tersebut menjadi harapan terakhir untuk menyelamatkan rumah, harta benda, bahkan keselamatan warga.
Kebakaran yang terjadi di wilayah yang jauh dari pusat pelayanan pemadam berpotensi membuat petugas membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai lokasi.
Dalam hitungan menit, api yang awalnya hanya membakar satu bagian bangunan dapat dengan cepat merambat ke bagian lainnya.
Karena itu, persoalan armada damkar dinilai tidak boleh hanya dibahas setelah terjadi kebakaran. Pemerintah daerah perlu memikirkan langkah antisipasi dengan memperkuat sarana pemadam sekaligus menempatkannya di wilayah yang memiliki akses cepat ke permukiman warga.
Usulan pembagian armada di Kusambi Raya, Lawa Raya dan Tiworo Raya diharapkan dapat menjadi bahan pertimbangan Pemkab Muna Barat dalam meningkatkan sistem mitigasi bencana kebakaran.
Sebab, tambahnya, ketika kebakaran sudah terjadi, masyarakat tidak membutuhkan janji. Mereka membutuhkan kecepatan, kesiapan dan armada yang benar-benar bisa tiba sebelum api berubah menjadi petaka besar.
Minimnya Armada Damkarmat di Muna Barat Jadi Sorotan Mahasiswa Atasi Musibah Kebakaran









