Opini

Antisipasi Kekeringan dan Kebakaran Hutan di Tengah Ancaman El Nino 2026

×

Antisipasi Kekeringan dan Kebakaran Hutan di Tengah Ancaman El Nino 2026

Sebarkan artikel ini
Julhan Rongga S.Pd., Gr. (Mahasiswa Magister Pedagogik Universitas Muhammadiyah Malang NIM: 20252066110135, Guru SMA Negeri 1 Wadaga, Provinsi Sulawesi Tenggara).

OPINI (SULTRAAKTUAL.ID) – Fenomena El Nino yang mulai terpantau sejak Juni 2026 perlu menjadi perhatian serius bagi pemerintah dan masyarakat. Hingga memasuki akhir September, kondisi cuaca di sejumlah wilayah masih menunjukkan kecenderungan musim kemarau yang panjang.

Berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), sebagian wilayah Indonesia diperkirakan baru memasuki musim hujan pada akhir Oktober atau awal November 2026.

Situasi tersebut menjadi peringatan bahwa masyarakat perlu meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi dampak kemarau panjang, terutama kekeringan, keterbatasan air bersih, ancaman terhadap produksi pangan, hingga potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurut BMKG, El Nino merupakan fenomena pemanasan suhu muka laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur yang berada di atas kondisi normalnya. Secara geografis, Indonesia berada di antara Benua Asia dan Australia serta di antara Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Posisi geografis tersebut membuat perubahan dinamika atmosfer dan laut di kawasan Pasifik dapat memberikan pengaruh terhadap kondisi cuaca di Indonesia.

Dampak El Nino tidak hanya berkaitan dengan meningkatnya suhu dan berkurangnya curah hujan. Fenomena ini dapat memicu berbagai persoalan lain, mulai dari kekeringan, berkurangnya ketersediaan air bersih, terganggunya produksi pertanian, ancaman ketahanan pangan, hingga meningkatnya risiko kebakaran hutan dan lahan.

Antisipasi Kekeringan dan Ancaman Pangan

Kekeringan menjadi salah satu dampak yang paling nyata ketika musim kemarau berlangsung lebih panjang. Berkurangnya curah hujan menyebabkan cadangan air permukaan dan air tanah menurun. Jika kondisi ini berlangsung dalam waktu lama, masyarakat dapat mengalami kesulitan memperoleh air bersih untuk kebutuhan sehari-hari maupun kegiatan pertanian.

Karena itu, antisipasi harus dilakukan sejak dini, bukan setelah kekeringan sudah menjadi krisis.

Peneque (2015) menjelaskan bahwa strategi pengelolaan kekeringan harus diarahkan untuk mengantisipasi atau meminimalkan dampak kekeringan melalui pemantauan, sistem peringatan dini, serta penghematan air.

Ada beberapa langkah yang dapat dilakukan.

Pertama, memantau curah hujan dan kondisi ketersediaan air secara berkala. Pemerintah daerah bersama masyarakat perlu mengetahui wilayah yang berpotensi mengalami kekeringan sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan lebih cepat.

Kedua, menghemat dan mengelola penggunaan air. Air harus diprioritaskan untuk kebutuhan pokok masyarakat. Penggunaan air secara berlebihan untuk aktivitas yang tidak mendesak perlu dikurangi selama musim kemarau.

Ketiga, melakukan konservasi tanah dan air. Pembuatan sumur resapan, embung, penampungan air hujan, serta perlindungan kawasan resapan merupakan langkah yang penting untuk menjaga cadangan air.

Keempat, menyesuaikan kegiatan pertanian dengan kondisi iklim. Petani dapat menggunakan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan serta menyesuaikan jadwal tanam dengan prakiraan musim.

Langkah-langkah tersebut penting untuk mencegah kekeringan berkembang menjadi persoalan ketahanan pangan. Sebab, ketika sumber air berkurang, sektor pertanian menjadi salah satu sektor pertama yang terdampak.

BACA JUGA :  Penculikan Anak Terjadi Lagi, Negara Gagal Ciptakan Lingkungan Ramah Anak

El Nino dan Ancaman Kebakaran Hutan

El Nino dan kebakaran hutan memiliki hubungan yang erat. Musim kemarau yang panjang menyebabkan vegetasi kehilangan kelembapan sehingga menjadi lebih mudah terbakar.

Indonesia memiliki kawasan hutan tropis yang luas serta ekosistem gambut yang tersebar di sejumlah wilayah. Kondisi tersebut menjadikan ancaman kebakaran hutan dan lahan semakin serius ketika musim kemarau panjang terjadi.

Kondisi kering menyebabkan kadar air pada tumbuhan dan material organik menurun. Akibatnya, bahan-bahan tersebut menjadi lebih mudah terbakar. Ketika terdapat sumber api, baik akibat faktor alam maupun aktivitas manusia, api dapat dengan cepat menyebar.

Namun demikian, kebakaran hutan tidak semata-mata disebabkan oleh faktor cuaca. Aktivitas manusia juga menjadi salah satu faktor penting. Pembukaan lahan dengan menggunakan api, pembakaran sisa vegetasi, pengelolaan lahan yang tidak tepat, serta aktivitas manusia di sekitar kawasan hutan dapat meningkatkan risiko terjadinya kebakaran.

Sejumlah penelitian, termasuk kajian Field dan sejumlah peneliti lainnya, menunjukkan bahwa sensitivitas aktivitas kebakaran di Indonesia meningkat ketika kondisi kekeringan berlangsung, khususnya pada periode El Nino. Karena itu, menghadapi El Nino bukan hanya persoalan bagaimana menghadapi cuaca panas dan minim hujan, tetapi juga bagaimana mengendalikan aktivitas manusia yang berpotensi memicu kebakaran.

Dampak Kebakaran Hutan Tidak Bisa Diremehkan

Kebakaran hutan dan lahan membawa dampak multidimensi. Persoalannya tidak berhenti pada hilangnya vegetasi, tetapi dapat memengaruhi kesehatan, lingkungan, pendidikan, transportasi, hingga perekonomian masyarakat.

Dampak pertama adalah pencemaran udara. Kabut asap akibat kebakaran dapat menurunkan kualitas udara dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan, termasuk infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Asap pekat juga dapat mengurangi jarak pandang sehingga berpotensi mengganggu aktivitas transportasi.

Dampak kedua adalah kerusakan ekosistem dan hilangnya keanekaragaman hayati. Kebakaran dapat menghancurkan habitat berbagai organisme, mengubah struktur ekosistem, mengurangi keanekaragaman hayati, serta menghancurkan vegetasi yang membutuhkan waktu lama untuk pulih.

Dampak ketiga adalah degradasi tanah. Ketika tutupan vegetasi hilang akibat kebakaran, tanah menjadi lebih rentan terhadap erosi dan kehilangan unsur hara. Kondisi ini pada akhirnya dapat menurunkan produktivitas lahan.

Dampak yang lebih serius terjadi ketika kebakaran mengenai kawasan gambut. Kebakaran gambut dapat berlangsung di bawah permukaan dan sulit dipadamkan. Selain menyebabkan kerusakan ekologis, kebakaran gambut juga dapat menghasilkan emisi yang besar dan memperburuk kualitas udara.

Dampak berikutnya adalah gangguan terhadap kehidupan sosial masyarakat. Kabut asap dapat mengganggu aktivitas pendidikan, transportasi, pekerjaan, dan kegiatan masyarakat di luar ruangan. Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat terpaksa mengurangi aktivitas di luar rumah demi menghindari paparan asap.

Tidak kalah penting adalah kerugian ekonomi. Kebakaran dapat merusak perkebunan, lahan pertanian, kawasan kehutanan, serta berbagai aktivitas ekonomi masyarakat. Jika kebakaran meluas hingga permukiman, kerugian yang ditanggung masyarakat tentu akan semakin besar.

BACA JUGA :  Hikmah Maulid : Meneladani Rasulullah, Mengemban Risalah Islam

Dengan demikian, kebakaran hutan tidak boleh dipandang hanya sebagai persoalan lingkungan. Kebakaran adalah persoalan kesehatan masyarakat, ekonomi, pendidikan, sosial, dan bahkan pembangunan.

Membangun Budaya Sehat Menghadapi Kemarau

Menghadapi musim kemarau panjang dan El Nino membutuhkan kesadaran bersama. Masyarakat tidak cukup hanya menunggu hujan turun, tetapi perlu membangun budaya hidup yang mampu menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan.

Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah kecukupan konsumsi air. Ketika suhu udara meningkat, kebutuhan tubuh terhadap cairan juga meningkat. Masyarakat perlu memastikan asupan air yang cukup agar tubuh terhindar dari dehidrasi.

Kedua, mengurangi aktivitas di bawah terik matahari. Paparan panas secara berlebihan dapat menyebabkan tubuh kehilangan cairan lebih cepat. Masyarakat perlu menggunakan pelindung seperti topi atau pakaian yang sesuai serta memanfaatkan tempat teduh.

Ketiga, masyarakat perlu menjaga kebersihan lingkungan dan tidak melakukan aktivitas pembakaran sembarangan. Sampah maupun sisa vegetasi sebaiknya tidak dibakar ketika kondisi lingkungan sangat kering karena api dapat dengan mudah menjalar.

Keempat, masyarakat harus meningkatkan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Jika menemukan titik api atau asap yang mencurigakan di kawasan hutan dan lahan, masyarakat perlu segera melaporkannya kepada pihak berwenang.

Jangan Menunggu Bencana Datang

El Nino adalah fenomena iklim, tetapi dampaknya dapat diperbesar atau diperkecil oleh tindakan manusia. Ketika masyarakat melakukan pemborosan air, membuka lahan dengan cara membakar, atau mengabaikan kondisi lingkungan, risiko yang ditimbulkan akan semakin besar.

Karena itu, menghadapi El Nino 2026 membutuhkan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dunia pendidikan, petani, pelaku usaha, dan seluruh pemangku kepentingan.

Pemerintah daerah perlu memastikan ketersediaan air bersih, memperkuat sistem peringatan dini, melakukan pemetaan wilayah rawan kekeringan dan kebakaran, serta memastikan kesiapan menghadapi karhutla. Di sisi lain, masyarakat harus menjadi bagian dari solusi dengan menghemat air, menjaga lingkungan, dan tidak melakukan aktivitas yang dapat memicu kebakaran.

Dunia pendidikan juga memiliki peran strategis. Sekolah dapat menjadi ruang untuk menanamkan kesadaran lingkungan kepada peserta didik melalui edukasi mengenai konservasi air, pencegahan kebakaran, perilaku hidup sehat, dan adaptasi terhadap perubahan iklim.

Pada akhirnya, El Nino tidak seharusnya hanya dilihat sebagai ancaman, tetapi juga sebagai momentum untuk membangun budaya masyarakat yang lebih peduli terhadap air dan lingkungan.

Kita tidak dapat mengendalikan kapan hujan turun, tetapi kita dapat mempersiapkan diri ketika hujan belum turun.

Antisipasi hari ini jauh lebih murah dibandingkan menanggung kerugian akibat kekeringan, kebakaran hutan, krisis pangan, dan gangguan kesehatan di kemudian hari.

error: Content is protected !!