Oleh : Mahidin (Jurnalis/Penulis)
OPINI (SULTRAAKTUAL.ID) – Hujan belum juga reda pada Minggu, 10/5/2026. Hampir sepekan terakhir, pagi, siang, sore hingga malam, langit Kota Kendari tidak memancarkan sinar matahari.
Kadang gerimis yang tampak biasa, kadang hujan lebat yang membuat drainase meluap dan menggenangi jalan-jalan protokol hingga pemukiman warga Kota Kendari.
BMKG bahkan memprediksi cuaca di Sulawesi Tenggara, termasuk Kota Kendari, masih didominasi hujan ringan hingga lebat disertai angin kencang pada awal Mei 2026.
Dan seperti tahun-tahun sebelumnya, kini kembali terulang Kota “Lulo” banjir lagi.
Banjir di Kota Kendari saat ini seolah bukan lagi peristiwa luar biasa, tapi menjadi agenda musiman yang dapat ditebak.
Hujan turun beberapa jam berturut-turut drainase sudah meluap, jalan protokol tergenang, perumahan kebanjiran, dan warga jadi sibuk menyelamatkan barang-barang mereka.
Setelah air surut, semuanya kembali normal, hingga banjir berikutnya datang lagi.
Ini bukan tanggung jawab satu pihak, tapi pekerjaan rumah kita bersama.
Beberapa tahun terakhir, Kota Kendari memang berkembang sangat cepat. Kawasan pemukiman atau pembangunan perumahan tumbuh di mana-mana, bukit dipangkas, daerah resapan berkurang, sementara saluran drainase di banyak titik tetap sempit dipenuhi sampah. Akibatnya, air kehilangan jalur untuk mengalir.
Ironisnya, setiap banjir datang, alasan yang paling mudah selalu cuaca ekstrem. Memang benar, intensitas hujan tinggi. BMKG juga telah berkali-kali mengingatkan potensi hujan deras dan cuaca ekstrem di Sulawesi Tenggara.
Namun, kota yang sehat seharusnya mampu bertahan menghadapi hujan, bukan justru lumpuh setiap kali langit mendung lebih lama.
Banjir di Kendari hari ini bukan semata soal curah hujan, tetapi soal tata kota dan keberanian mengambil langkah pembenahan jangka panjang.
Sudah saatnya pembangunan sistem drainase modern dibuat, perlindungan daerah resapan, normalisasi sungai, serta penegakan aturan lingkungan.
Pemerintah Kota (Pemkot) Kendari perlu bergerak lebih serius, bukan sekadar hadir saat banjir terjadi lalu menghilang ketika air surut.
Masyarakat pun memiliki tanggung jawab yang sama. Kebiasaan membuang sampah sembarangan ke selokan dan sungai menjadi bom waktu yang terus memperparah keadaan.
Kota Kendari tidak akan pernah bebas dari kata banjir, jika warganya masih memperlakukan drainase sebagai tempat pembuangan sampah.
Kota Kendari dikenal sebagai Kota “Lulo”, simbol kebersamaan masyarakatnya. Namun di tengah identitas budaya itu, jangan sampai Kendari juga dikenang sebagai kota yang selalu tenggelam setiap musim hujan tiba.
Sebab, banjir yang terus berulang bukan lagi sekadar bencana alam. Tapi jadi penanda ada yang belum beres dalam cara kita membangun dan menjaga kota ini.







