DAERAH

Ajmain, Paskibraka Muna Barat yang Berjuang Tanpa Ayah dan Ibu di Sisi

×

Ajmain, Paskibraka Muna Barat yang Berjuang Tanpa Ayah dan Ibu di Sisi

Sebarkan artikel ini
Ajmain Paskibraka Asal Muna Barat.

MUNA BARAT (SULTRAAKTUAL.ID) — Di balik barisan tegap Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Kabupaten Muna Barat, terselip kisah perjuangan seorang pelajar yang mengundang haru. Namanya Ajmain, siswa SMA Negeri 1 Tiworo Tengah.

‎Ajmain menjadi salah satu anggota Paskibraka Kabupaten Muna Barat yang menjalankan tugas mengibarkan Sang Saka Merah Putih. Namun, di balik ketegapannya saat berdiri di lapangan, terdapat perjuangan yang tidak mudah.

‎Ajmain menjalani hari-harinya tanpa didampingi ayah dan ibu. Kedua orang tuanya kini berada di perantauan untuk bekerja. Sang ayah merantau di Malaysia, sementara ibunya berada di Kalimantan.

‎Kondisi tersebut membuat Ajmain harus menjalani proses latihan Paskibraka dengan keterbatasan dukungan keluarga secara langsung. Bahkan, dalam sejumlah latihan, kondisi fisiknya sempat membuat para pelatih dan orang-orang di sekitarnya merasa khawatir.

‎Koordinator Pelatih Paskibraka Muna Barat, Zayani Ihu, mengatakan Ajmain beberapa kali mengalami kondisi lemas hingga pingsan saat mengikuti latihan. Salah satu penyebabnya karena Ajmain tidak sempat sarapan sebelum menjalani latihan.

‎“Setiap latihan dia kadang pingsan karena tidak sarapan. Kondisinya lemas, bahkan pernah demam sehingga latihan tidak fokus dan tidak konsentrasi,” ujar Zayani.

‎Kondisi Ajmain bahkan sempat mengharuskannya mendapatkan perawatan di Puskesmas. Ia menjalani pemeriksaan dan mendapat infus karena kondisi tubuhnya yang melemah.

‎Namun, keadaan tersebut tidak membuat Ajmain menyerah. Ia tetap berusaha mengikuti proses latihan hingga akhirnya dipercaya menjadi bagian dari Paskibraka Kabupaten Muna Barat.

‎Di tengah perjuangannya, Ajmain juga mendapatkan perhatian dari lingkungan pemerintahan. Sekretaris DPRD (Sekwan) Kabupaten Muna Barat disebut menganggap Ajmain sebagai anak angkat, menjadi salah satu bentuk perhatian dan dukungan ketika ia menjalani proses latihan.

‎Kisah Ajmain menjadi warna tersendiri dalam perjalanan Paskibraka Muna Barat. Di saat peserta lain dapat menjalani latihan dengan dukungan orang tua yang berada di dekat mereka, Ajmain harus melewati proses tersebut dengan ayah dan ibunya yang berada jauh di tanah rantau.

‎Meski cita-citanya belum ia tentukan secara pasti, pengalaman menjadi Paskibraka telah memberikan pelajaran berharga bagi Ajmain. Disiplin, ketahanan, tanggung jawab dan semangat untuk menyelesaikan tugas menjadi bekal yang tidak ternilai.

‎Di balik seragam putih dan langkah tegapnya, Ajmain membawa cerita tentang perjuangan seorang anak perantau yang tetap berdiri untuk Merah Putih.

‎Ia mungkin tidak memiliki ayah dan ibu di sampingnya saat menjalani latihan. Namun, dukungan dari pelatih, sekolah dan orang-orang yang peduli membuatnya tetap mampu berdiri tegak sebagai bagian dari generasi muda Muna Barat yang dipercaya mengibarkan Sang Saka Merah Putih.

‎Bagi Ajmain, menjadi Paskibraka bukan hanya tentang mengibarkan bendera. Lebih dari itu, tugas tersebut menjadi bukti bahwa keterbatasan bukan alasan untuk berhenti berjuang.

BACA JUGA :  RSUD Muna Barat Kekurangan Stok Obat, Bahan Makanan Pasien Menipis