MUNA BARAT (SULTRAAKTUAL.ID) – Pagi itu, suasana Hari Raya Idul Adha belum sepenuhnya reda di Kabupaten Muna Barat.
Takbir mungkin masih terdengar di beberapa sudut kampung, namun di ruang Instalasi Gawat Darurat (IGD) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Muna Barat, sebuah keluarga justru tengah berjibaku dengan kepanikan.
Seorang bayi yang mengalami sesak napas dilarikan ke IGD sekitar pukul 09.30 Wita. Dokter telah memberikan resep obat. Namun harapan keluarga untuk segera mendapatkan penanganan justru tertahan di depan pintu instalasi farmasi yang tidak terbuka.
Dalam kondisi genting, keluarga pasien disebut tidak menemukan petugas farmasi yang berjaga. Situasi itu berubah menjadi kepanikan bercampur putus asa.
Demi menyelamatkan sang bayi, keluarga akhirnya nekat mengambil sendiri obat di instalasi farmasi setelah menemukan kunci ruangan yang tersimpan di bawah pot bunga.
Peristiwa itu kemudian memantik sorotan publik setelah Direktur RSUD Kabupaten Muna Barat, dr. Syahril Fitrah, menyampaikan alasan bahwa petugas farmasi saat itu tidak melayani pasien karena sedang melaksanakan Salat Idul Adha.
Namun alasan tersebut justru menuai kecaman. Banyak pihak menilai penjelasan itu tidak masuk akal karena pelayanan terhadap pasien terjadi sekitar pukul 09.30 pagi, waktu di mana pelaksanaan Salat Idul Adha pada umumnya telah selesai.
Koordinator ALAM Sultra, Rahman, menilai pernyataan direktur rumah sakit tersebut sebagai bentuk pembohongan publik dan upaya menutupi lemahnya pelayanan rumah sakit.
“Karakter pejabat seperti ini tidak boleh dipelihara, harus dievaluasi cepat. Karena kalau terulang bisa fatal,” ungkap Rahman.
Bagi sebagian masyarakat, persoalan ini bukan semata tentang keterlambatan pelayanan obat. Ada kegelisahan yang lebih besar: hilangnya rasa aman ketika berhadapan dengan fasilitas kesehatan pemerintah.
Rumah sakit seharusnya menjadi tempat paling siap menghadapi keadaan darurat, termasuk pada hari besar keagamaan. Sebab penyakit dan kondisi kritis tidak mengenal hari libur.
Kemarahan publik semakin membesar karena insiden itu memperlihatkan adanya celah serius dalam sistem pelayanan. Bagaimana mungkin ruang farmasi di rumah sakit daerah bisa kosong tanpa pengawasan, sementara kunci ruangan justru tersimpan di tempat yang mudah dijangkau?
Di tengah polemik tersebut, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Muna Barat, Arif Ndaga, memastikan pihaknya akan turun langsung melakukan inspeksi di rumah sakit guna memastikan pelayanan berjalan sebagaimana mestinya.
“Kami akan melakukan inspeksi untuk memastikan semua pelayanan harus berjalan dengan baik,” bebernya.
Insiden ini kini menjadi lebih dari sekadar keluhan pelayanan. Ia menjelma menjadi cermin rapuhnya tata kelola pelayanan publik di sektor kesehatan. Di saat masyarakat membutuhkan kejujuran dan tanggung jawab, yang muncul justru alasan yang dinilai tidak sesuai fakta di lapangan.
Dan di balik semua polemik itu, ada satu hal yang paling sulit dibantah, seorang bayi yang sedang sesak napas tidak punya waktu menunggu birokrasi maupun klarifikasi.
Dalih Salat Idul Adha dan Krisis Pelayanan di RSUD Muna Barat









