MUNA (SULTRAAKTUAL.ID) – Stadion Manguntara, Kecamatan Tongkuno, Kabupaten Muna, yang sejak awal dipenuhi ribuan pencinta sepak bola mendadak berubah menjadi arena ketegangan. Partai final Kosliwu Cup XIX yang mempertemukan Wadiabero FC kontra Empang FC harus berakhir ricuh dan tidak dapat dilanjutkan.
Laga yang semula berjalan sengit dan penuh sorakan pendukung kedua tim berubah panas setelah muncul keputusan kontroversial wasit di dalam kotak penalti Empang FC.
Pemain Wadiabero FC berhasil menjebol gawang Empang FC. Namun, gol tersebut langsung menuai protes. Pemain Wadiabero FC dinilai telah berada dalam posisi offside sebelum bola masuk ke gawang.
Protes semakin keras ketika wasit tetap mengesahkan gol tersebut. Keputusan itu kemudian menjadi titik awal memanasnya suasana pertandingan.
Ketegangan di lapangan perlahan merembet ke tribun penonton. Pendukung kedua kesebelasan terlibat aksi saling kejar hingga membuat situasi di Stadion Manguntara tidak lagi terkendali.
Ribuan penonton yang memadati stadion membuat aparat keamanan harus bekerja ekstra keras. Petugas berupaya memisahkan massa dan menghalau para pendukung agar bentrokan tidak semakin meluas.
Di tengah kericuhan tersebut, seorang hakim garis bahkan menjadi korban kekerasan. Ia dilaporkan mendapat pukulan pada bagian wajah saat situasi semakin tidak terkendali.
Kondisi tersebut akhirnya membuat pertandingan final tidak dapat diteruskan. Pesta sepak bola yang seharusnya menjadi puncak kemeriahan Kosliwu Cup XIX justru berakhir dengan kericuhan.
Disaksikan Langsung Bupati Muna Barat
Di balik panasnya pertandingan, Bupati Muna Barat, La Ode Darwin, turut hadir menyaksikan partai final tersebut. Ia hadir sejak peluit pertama dibunyikan dan bersama rombongan terlihat duduk di podium utama.
Kehadiran La Ode Darwin menjadi perhatian tersendiri karena dirinya merupakan sponsor utama dalam penyelenggaraan Kosliwu Cup XIX.
Turnamen ini memang mendapat perhatian besar dari masyarakat. Ribuan penonton datang ke Stadion Manguntara untuk menyaksikan langsung duel dua tim yang berhasil melaju ke partai puncak.
Sebagai bentuk dukungan terhadap turnamen tersebut, La Ode Darwin menyiapkan total hadiah sebesar Rp100 juta.
Besarnya hadiah dan antusiasme masyarakat membuat final Kosliwu Cup XIX sebelumnya diprediksi menjadi pesta olahraga yang meriah.
Namun, harapan itu berubah setelah keputusan wasit terkait gol kontroversial memicu protes dan berujung pada kericuhan.
Sportivitas Dipertaruhkan
Insiden tersebut meninggalkan catatan penting bagi penyelenggaraan sepak bola di tingkat lokal. Kontroversi keputusan pertandingan memang dapat memicu kekecewaan, tetapi semangat sportivitas seharusnya tetap menjadi pijakan utama.
Sepak bola bukan hanya soal menang dan kalah. Di balik persaingan di lapangan, terdapat nilai persaudaraan, kebersamaan dan hiburan bagi masyarakat.
Kericuhan pada partai final Kosliwu Cup XIX menjadi pengingat bahwa pertandingan sepak bola seharusnya menjadi ruang untuk mempererat hubungan antarmasyarakat, bukan justru memicu pertikaian.
Kini, perhatian publik tertuju pada pihak penyelenggara dan pihak terkait untuk menentukan langkah selanjutnya atas pertandingan final yang terhenti tersebut.
Kosliwu Cup XIX boleh saja meninggalkan cerita tentang pertandingan sengit, gol kontroversial dan ribuan penonton. Namun, yang paling penting, insiden tersebut diharapkan menjadi bahan evaluasi agar kejadian serupa tidak kembali terjadi dalam gelaran sepak bola berikutnya.
Final Kosliwu Cup XIX Berakhir Ricuh, Hakim Garis Kena Bogem Penonton Saling Serang









