MUNA BARAT (SULTRAAKTUAL.ID) – Sebuah usaha kecil sering kali lahir dari kebutuhan sederhana: mencari penghasilan, memenuhi kebutuhan keluarga, atau sekadar mencoba peruntungan dari produk yang dibuat sendiri.
Namun, ketika usaha mulai berjalan, persoalan baru bermunculan. Produksi harus ditingkatkan, kualitas dijaga, pemasaran diperluas dan pengelolaan bisnis harus semakin tertata.
Di titik inilah perjalanan UMKM untuk naik kelas benar-benar dimulai.
Di Muna Barat, Rumah BUMN mencoba menjawab tantangan tersebut melalui pendampingan yang dilakukan secara intensif dan berkelanjutan.
Sepanjang September 2026, sebanyak tujuh UMKM mendapatkan pendampingan dalam program percepatan naik kelas. Program ini tidak sekadar mendorong pelaku usaha untuk menghasilkan produk, tetapi juga membangun kemampuan agar usaha tersebut mampu berkembang secara lebih mandiri.
Pendampingan tersebut dihadiri langsung Manajer Rumah BUMN PLN UID Sulselbar, Haidir Ali.
Dalam arahannya, Haidir Ali menegaskan komitmen Rumah BUMN untuk terus mengambil bagian dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah melalui pemberdayaan UMKM.
”UMKM tidak boleh berhenti pada posisi sebagai usaha yang hanya mampu bertahan,” ungkapnya, Senin (28/9/2026).
Pelaku usaha harus didorong untuk memiliki kapasitas produksi yang lebih baik, menjaga kualitas produk, memperkuat tata kelola bisnis dan berani memperluas pasar.
Bahkan, UMKM binaan yang berhasil menunjukkan perkembangan dan naik kelas akan diprioritaskan memperoleh bantuan alat produksi.
”Stimulus itu diharapkan menjadi dorongan tambahan bagi pelaku usaha untuk meningkatkan produktivitas,” tambahnya.
Bantuan alat produksi bukan sekadar persoalan menambah fasilitas. Lebih jauh, dukungan tersebut diharapkan membuka ruang bagi pelaku UMKM untuk meningkatkan kapasitas produksi sekaligus menjaga konsistensi kualitas produk.
Pada saat yang sama, pemasaran juga menjadi medan yang tidak kalah penting.
Perubahan perilaku konsumen membuat pelaku usaha tidak cukup hanya mengandalkan pasar konvensional. Digitalisasi membuka peluang baru, tetapi juga menuntut pelaku UMKM memiliki kemampuan memasarkan produk secara lebih kreatif dan terukur.
”Pendampingan Rumah BUMN menjadi penting untuk membantu pelaku usaha memahami berbagai aspek tersebut,” katanya.
Salah satu pelaku UMKM binaan, Asma, merasakan langsung manfaat program tersebut.
Ia mengaku bersyukur mendapatkan pendampingan secara rutin. Menurutnya, program tersebut memberikan banyak manfaat karena pelaku usaha tidak hanya diarahkan dari sisi produk, tetapi juga mendapatkan pendampingan mengenai manajemen bisnis dan strategi pemasaran.
Bagi pelaku usaha kecil, pendampingan semacam itu menjadi ruang untuk belajar sekaligus mengevaluasi kelemahan usaha yang selama ini mungkin belum terlihat.
”Tidak sedikit UMKM yang memiliki produk potensial, tetapi belum mampu berkembang karena persoalan pengelolaan usaha, pemasaran maupun keterbatasan kapasitas produksi,” ucapnya.
Rumah BUMN Muna Barat berupaya menjembatani persoalan tersebut.
Pendekatan yang dilakukan menunjukkan bahwa pengembangan UMKM tidak cukup hanya dengan memberikan bantuan sesaat. Yang jauh lebih penting adalah membangun kemampuan pelaku usaha agar mampu mengelola bisnisnya secara berkelanjutan.
Jika proses itu terus dijaga, UMKM berpeluang tumbuh dari usaha keluarga menjadi unit ekonomi yang lebih produktif.
Dari sana, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh pemilik usaha. Pertumbuhan UMKM juga dapat membuka peluang kerja, meningkatkan perputaran ekonomi masyarakat dan memperluas rantai usaha di daerah.
Inilah yang membuat program pendampingan UMKM memiliki arti lebih luas.
Rumah BUMN Muna Barat tidak hanya sedang mendampingi tujuh pelaku usaha pada September ini. Lebih dari itu, program tersebut menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem UMKM yang memiliki kemampuan untuk tumbuh.
Karena UMKM yang kuat bukan hanya yang mampu bertahan menghadapi hari ini, tetapi yang mampu menyiapkan diri untuk menghadapi pasar di masa depan.
Dan di tengah keterbatasan yang masih dihadapi pelaku usaha kecil, pendampingan yang konsisten dapat menjadi salah satu jembatan untuk membawa mereka dari sekadar bertahan menuju usaha yang lebih produktif, mandiri dan berdaya saing.

