OPINI (SULTRAAKTUAL.ID) – Kecerdasan buatan atau biasa disebut AI (Artificial Intelligence) hari ini menjadi pembahasan utama di seluruh dunia. Hal ini karena banyaknya orang menaruh harapan besar padanya karena dianggap mampu memudahkan segala hal. Namun di sisi lain, justru memunculkan rasa khawatir. Mengapa demikian?
Kita perlu menelaah fakta yang terjadi hari ini, ada beberapa hal yang perlu kita cermati, yaitu: para peneliti kecerdasan buatan, termasuk yang disebut sebagai Bapak AI dunia, menerbitkan riset yang kembali memberi peringatan kepada pemerintah di berbagai negara untuk bersiap menghadapi ledakan kecerdasan AI. Riset yang baru diterbitkan di jurnal Cambridge Programme on AI Science & Policy (CASP) tersebut mendesak para pembuat kebijakan untuk bertindak segera sebelum terjadi kemajuan yang tak terkendali dari teknologi tersebut.
Melansir The Guardian, para penulis mengungkapkan keprihatinan tentang “ledakan kecerdasan” yang mereka gambarkan sebagai percepatan drastis kemajuan AI akibat AI itu sendiri dalam proses recursive self-improvement (RSI) atau penelitian dan pengembangan (R&D) AI secara otomatis. Menurut riset tersebut, seorang pengembang AI dapat menjalankan tenaga kerja yang setara dengan jutaan peneliti manusia terbaik karena otomatisasi penelitian dan pengembangan oleh AI itu sendiri.
“Ledakan kecerdasan buatan bisa menjadi perkembangan teknologi paling penting dalam sejarah manusia, memadatkan kemajuan bertahun-tahun menjadi beberapa bulan atau kurang, mengancam kendali manusia atas sistem AI, dan sangat mengikis pengawasan kekuasaan di dalam dan antar negara, perusahaan, dan cabang pemerintahan,” tulis para peneliti di studi tersebut (Cnn Indonesia, 30-9-2026).
Selain itu, AI dapat menghasilkan dampak positif misalnya dalam bidang medis dan teknologi lainnya. Salah satu contoh dampak positifnya, AI bisa membantu dokter membaca hasil rontgen lebih cepat dan akurat (Kompas, 5-10-2026).
Karena itu, AI bukan lagi sekadar alat bantu, tapi sudah bergerak menuju sesuatu yang dapat melampaui kendali manusia itu sendiri. Di sinilah kita perlu melihat secara jernih, antara harapan dan kekhawatiran tersebut.
Alhasil Ledakan kecerdasan ini dapat membawa tiga risiko besar yang perluh diwaspadai. Pertama, ancaman biologis dan siber, misalnya AI dipakai untuk membuat virus baru atau meretas sistem. Kedua, hilangnya kendali manusia, contohnya banyak pekerjaan kasir, desainer, penerjemah dan yang lainnya mulai diganti oleh AI. Ketiga, ancaman perang antar negara, misal saja negara berlomba membuat senjata otonom berupa drone pembunuh yang bisa menyerang tanpa diperintah manusia.
Dari fakta tersebut, ada beberapa poin penting, yaitu: Pertama, perkembangan teknologi AI dapat memberikan kemudahan sekaligus menimbulkan bahaya bagi manusia. Contoh mudahnya seperti pisau. Di tangan koki, pisau dipakai untuk memotong sayur dan memberi manfaat. Tapi di tangan penjahat, pisau yang sama bisa dipakai untuk melukai orang.
Kedua, penggunaan AI bisa untuk kebaikan tapi juga sangat mungkin digunakan untuk kejahatan. Contoh untuk kebaikan, AI dipakai untuk membuat aplikasi belajar Al-Qur’an. Contoh untuk kejahatan, AI dipakai untuk membuat video deepfake wajah orang lain untuk menipu, atau membuat suara palsu untuk memeras keluarga.
Ketiga, ledakan kecerdasan buatan tanpa kendali akidah dan syariat Islam bisa beresiko pada kehancuran kehidupan manusia. Misalnya, ketika manusia membuat AI tanpa merasa diawasi Allah, dia akan membuat AI yang membolehkan pornografi, membolehkan riba, atau membuat konten yang merusak akhlak. Karena patokannya bukan lagi terkait halal haram, tapi viral dan untung.
Lantas bagaimana Islam memandang dan memberi solusi atas persoalan ini? Pertama, manusia diberikan kemuliaan berupa akal untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Allah dan menjadi khalifah fil ardhi.
Misal, ketika kita melihat betapa rumitnya sistem AI yang dibuat manusia, seharusnya kita semakin sadar bahwa otak manusia yang menciptakan AI itu jauh lebih rumit, dan yang menciptakan otak manusia, yaitu Allah jauh lebih Maha Kuasa. Jadi akal dipakai untuk taat, bukan untuk sombong. Jadi secanggih apapun manusia menciptakan alat pasti memiliki kekurangan.
Kedua, Islam menetapkan hukum yang tegas bahwa segala bentuk hasil pemikiran manusia terbagi menjadi dua, yaitu hadarah dan madaniyah. Contoh hadarah yang dipengaruhi ideologi adalah seperti sistem demokrasi, liberalisme, atau ide kebebasan tanpa batas. Ini tidak boleh kita ambil begitu saja. Sedangkan contoh madaniyah yang netral adalah seperti gawai, laptop, internet, dan teknologi AI itu sendiri sebagai alat. Alatnya boleh dipakai, tapi ide di baliknya harus disaring.
Ketiga, AI adalah buah perkembangan teknologi buatan manusia, namun AI dipengaruhi oleh berbagai informasi, pemikiran dan ideologi yang diproses menjadi satu keputusan.
Misal, kalau kita tanya AI tentang pacaran, warisan, atau LGBT, dan data yang dimasukkan ke AI itu dari Barat yang sekuler, maka jawaban AI pasti akan membenarkan pacaran dan LGBT. Jadi AI itu seperti anak kecil, tergantung siapa yang mengajarinya dan buku apa yang diberikan padanya.
Keempat, AI di tangan manusia yang memiliki akidah yang kokoh dan ketundukan pada syariat akan memberikan kemaslahatan bagi manusia. Misalnya, di tangan seorang muslim yang taat, AI bisa dipakai untuk membuat sistem pengingat sholat, untuk menerjemahkan kitab-kitab ulama, untuk mendeteksi makanan halal dan haram, atau untuk mengelola zakat agar tepat sasaran.
Sebaliknya, AI di tangan manusia yang salah hanya mengejar keuntungan, akan dipakai untuk membuat seperti judi online yang lebih canggih, aplikasi kencan, atau senjata untuk menjajah negara lain.
Kelima, sistem kehidupan manusia harus diatur dengan syariat Islam agar selamat. Misalnya, kalau aturan mainnya masih sistem kapitalis, maka perusahaan AI akan dibiarkan membuat apa saja asal laku, walaupun merusak. Beda halnya kalau syariat Islam yang mengatur.
Oleh karena itu dalam sistem Islam, negara akan melarang AI yang merusak akhlak dan hanya membolehkan AI yang membawa maslahat. Ibarat lalu lintas, kalau tidak ada rambu-rambu dan polisi, mobil secanggih apapun pasti akan tabrakan. Syariat Islam itulah rambu-rambunya agar teknologi dapat membawa maslahat. Wallahu a’lam bishowab.

