Opini

Gaza, Idulfitri di Tengah Reruntuhan Kota

×

Gaza, Idulfitri di Tengah Reruntuhan Kota

Sebarkan artikel ini
Fitri Suryani, S. Pd (Freelance Writer).

Oleh : Fitri Suryani, S. Pd (Freelance Writer)

OPINI (SULTRAAKTUAL.ID) – Lantunan takbir “Allahu Akbar” bergema di seluruh Gaza yang porak-poranda, meninggi di atas kehancuran besar akibat agresi Zionis Israel. Para jamaah pun memadati area salat darurat yang didirikan di atas puing-puing atau di samping masjid-masjid yang hancur, mengankat suara mereka untuk menegakkan ritual Idulfitri meskipun dalam kondisi yang memprihatinkan.

Idulfitri tahun ini juga datang di tengah kondisi kemanusiaan yang masih sangat sulit di Gaza. Blokade masih berlangsung, krisis pengungsian terus memburuk, dan ratusan ribu warga Palestina tinggal di tempat penampungan atau tenda-tenda darurat, menghadapi kekurangan akut pangan, air bersih, dan kebutuhan pokok lainnya (Minanews, 20-03-2026).

Ya begitulah derita rakyat Palestina di Gaza, penderitaan yang mereka rasakan tak juga berakhir walau di tengah sukacita kaum muslim di berbagai penjuru negeri yang tengah merasakan kebahagian menyambut Idulfitri.

Apalagi penderitaan warga Gaza semakin parah dan terlupakan dari perhatian dunia serta media seiring As-Israel fokus memerangi Iran. Bagaimana tidak, serangan Israel ke Iran diikuti dengan penutupan perbatasan Gaza oleh Israel. Hal ini memotong jalur bantuan pangan, bahan bakar, dan obat-obatan. Hal itu menyebabkan pasokan bantuan menurun drasis hingga 80 persen.

Belum lagi di tengah eskalasi Israel-Iran, militer Israel terus menggempur Gaza, membuat zona aman semakin manyempit bagi warga Palestina.

Selain itu, Ironi negara-negara Arab Teluk justru bersekutu dengan negara penjajah dalam memerangi Iran dan melupakan derita Gaza. Ya, negara-negara Arab Teluk semakin memandang Iran sebagai ancaman eksistensi utama terhadap stabilitas dan ekonomi mereka. Serangan rudal dan drone Iran yang terus-menerus menargetkan pangkalan AS dan infrastruktur di kawasan teluk, terutama pasca eskalasi Februari 2026, memaksa negara-negara Teluk untuk memperkuat kerja sama pertahanan dengan AS dan Israel.

Idulfitri dalam kondisi mengenaskan ini harusnya dirasakan sebagai penderitaan bagi seluruh kaum muslim, bak satu tubuh. Karena itu, pentingnya solidaritas umat Islam global dan ini menjadi momen refleksi atas penderitaan saudara seiman, seperti Gaza yang harus memicu kepedulian nyata, bukan sekadar perayaan euforia.

Dari itu, sesungguhnya nasib perdamaian dan kemerdekaan Palestina bukan jadi prioritas bagi AS dan Israel. Dua negara tersebut hanya fokus pada hegemoni kekuasaannya pada dunia. Meskipun ada kesepakatan formal, namun tindakan di lapangan menunjukkan fokus pada pengamanan kepentingan geopolitik Israel dan AS yang sering kali mengabaikan hak-hak mendasar untuk kemerdekaan Palestina.

Kondisi saat ini sungguh jauh dengan apa yang mestinya dilakukan kaum muslim, sebagaimana dalam surah Al-Fath ayat 29 yang menegaskan karakter umat Islam, yakni berkasih sayang dan lemah lembut sesama muslim, serta bersikap tegas/keras terhadap orang kafir yang memusuhi atau memerangi kaum muslim.

Padahal sejatinya ukhuwah islamiyah menjadi pengikat bagi umat Islam di seluruh dunia untuk membebaskan penderitaan saudara sesama muslim. Salah satu wujud ukhuwah adalah saling memberikan rasa aman dan saling menolong. Ini mewujud dalam bentuk aksi kemanusiaan, bantuan sosial dan bantuan bagi muslim yang tertindas.

Rasulullah Saw. pun menggambarkan bahwa orang mukmin seperti satu tubuh, “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam hal saling mengasihi, mencintai dan menyayangi bagaikan satu tubuh. Apabila ada satu anggota tubuh yang sakit, maka seluruh tubuhnya akan ikut terjaga dan panas (turut merasakan sakitnya) (HR. Bukhari dan Muslim).

Dengan demikian, sungguh Palestina akan senantiasa dalam penderitaan selama dunia khusunsnya kaum muslim tak ada aksi nyata dalam membebaskan mereka dari penjajahan Zionis Israel dan sekutunya. Dari itu, tidakkah umat mendambakan ikatan ukhuwah yang kokoh dalam institusi Islam agar tak ada lagi penjajahan dan penderitaan di berbagai dunia, sehingga terwujud Islam rahmatan lil alamin. Wallahu a’lam.

BACA JUGA :  Fantasi Sedarah, Indikasi Runtuhnya Tatanan Keluarga
error: Content is protected !!