Opini

Cinta Ditolak, Kekerasan Bertindak : Refleksi Krisis Moral Generasi

×

Cinta Ditolak, Kekerasan Bertindak : Refleksi Krisis Moral Generasi

Sebarkan artikel ini
Yuni Damayanti

Oleh : Yuni Damayanti

OPINI (SULTRAAKTUAL.ID) – Kampus seharusnya menjadi ruang aman bagi mahasiswa untuk belajar, berdiskusi, dan mengembangkan diri. Namun, peristiwa tragis yang terjadi di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Syarif Kasim Riau baru-baru ini mengguncang publik. Seorang mahasiswi menjadi korban pembacokan oleh mahasiswa lain saat hendak mengikuti seminar proposal skripsi.

Peristiwa ini bukan hanya kasus kriminal biasa, tetapi juga menjadi alarm moral tentang bagaimana emosi, relasi yang tidak sehat, dan lemahnya pengendalian diri dapat berujung pada tindakan kekerasan.

Dalam konteks masyarakat yang religius, khususnya di lingkungan kampus Islam, kasus ini menimbulkan pertanyaan penting: di mana posisi nilai-nilai Islam dalam membentuk karakter mahasiswa?

Peristiwa pembacokan terjadi pada Kamis, 26 Februari 2026 di lantai dua Fakultas Syariah dan Ilmu Hukum UIN Sultan Syarif Kasim Riau. Korban bernama Faradilla Ayu diserang secara tiba-tiba oleh seorang mahasiswa berinisial RM saat hendak mengikuti seminar proposal.

Akibat serangan tersebut, korban mengalami luka serius pada bagian kepala dan tangan sehingga harus dilarikan ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Riau untuk mendapatkan perawatan medis. Polisi menyatakan bahwa motif penganiayaan diduga berkaitan dengan masalah hubungan pribadi antara pelaku dan korban. Pelaku menyimpan perasaan terhadap korban namun cintanya tidak terbalas, (metrotv,26/2/2026).

Miris, kekerasan ini terjadi di lingkungan kampus, tempat anak-anak menuntut ilmu. Kejadian ini menunjukkan kegagalan sistem pendidikan sekuler membentuk generasi berkepribadian mulia, hal ini terlihat dari perilaku pemuda saat ini yang dekat dengan aktivitas kekerasan, pembunuhan, dan pergaulan bebas.

Sekulerisme membentuk standar kebebasan dan bertindak semaunya dalam diri remaja tanpa mempertimbangkan dampaknya bagi orang lain. Normalisasi nilai-nilai liberalism, khususnya pergaulan bebas (pacarana, perselingkuhan dll) di tengah keluarga dan Masyarakat berdampak besar dalam mengubah perilaku yang bertentangan pada norma agama bahkan sampai berujung pada pembunuhan.

Saat ini negara kurang memprioritaskan perhatian dalam pembinaan generasi. Generasi hanya dipandang sebagai sebagai faktor ekonomi yang bernilai produktif dan berorentasi pada materi.

Sedangkan sistem pendidikan Islam memiliki tujuan untuk membangun kepribadian Islam serta penguasaan ilmu kehidupan seperti matematika, sains, teknologi dan rekayasa bagi peserta didik.

Hasil belajar (output) pendidikan Islam akan menghasilkan pesarta didik yang kokoh keimanannya dan mendalam pemikiran Islamnya (tafaqquh fiddin). Pengaruhnya adalah keterikatan peserta didik terhadap hukum Allah SWT (bertakwa). Dampaknya adalah tegaknya amar makruf nahi mungkar di tengah masyarakat, tersebarnya dakwah dan jihad ke penjuru dunia.

Keberhasilan dari sistem Pendidikan itu juga tampak dalam kehidupan masyarakatnya, lahirnya kepedulian satu sama lain dengan saling mengingatkan pada kebaikan dan menjauhi kemaksiatan sehingga tercipta suasana yang mendukung dalam ketaatan dan menjauhkan dari perilaku menyimpang, dengan ini maka akan terbentuk kontrol Masyarakat sehingga mampu meminimalisir tindak kejahatan di lingkungan Masyarakat.

Negara berperan penting dalam menerapkan aturan dan sanksi sesuai hukum islam, tujuan persanksian dalam islam ada tiga: pertama, untuk menghukum pihak yang melakukan tindak kriminalitas, atau dengan kata lain bertindak sebagai tebusan dan Upaya perbaikan terhadap pelaku kriminal. Kedua, sebagai sarana untuk mencegah Masyarakat dari tindakan kriminalitas. Ketiga, sebagai sarana ganti rugi bagi pihak-pihak yang menjadi korban tindakan kriminalitas. Dengan demikian akan sulit kita jumpai tragedi pembacokan atau kekerasan lainya apalagi di kawasan kampus tempat generasi dididik karakter dan akademik.

BACA JUGA :  Penculikan Anak Terjadi Lagi, Negara Gagal Ciptakan Lingkungan Ramah Anak
error: Content is protected !!